Sunday, September 7, 2014

Hindari Mati Sia-Sia di Jalan Raya

Posted On 9/07/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Kemalangan jalan raya di beberapa tempat di dunia diperkirakan mele-bihi korban sebuah perang dahsyat dari sesuatu Ne-gara. Kenapa begitu mu-dah orang menyia-nyiakan nyawanya secara percuma hanya karena asyik balab-balapan kenderaan ataulalai dalam mengemudi. 

Tiada seorang korbanpun dapat menjawab pertan-yaan tersebut karena um-umnya mereka tidak sadar kalau prilaku cerobah yang dilakukan itu membahaya-kan nyawanya. Apalagi di musim hari raya yang hamapir tiada hari tanpa kemalangan jalan raya, terkadang mobilnya baru dibeli khusus untuk ber-hari raya dengan keluarga, tetapi terlanjur menabrak tiang listrik lalu terbalik dan terbakar.

Semua kejadian itu tidak dapat dengan mudah menyalahkan Allah secara gamblang seperti uca-pan: dia terbalik mobil karena Allah, padahal dia sendiri yang ceroboh, lalai dan ogah-ogahan dalam mengemudi. Sungguh Al-lah tidak akan mendhalimi seseorang walapun sebesar zarrah sekalipun, dan jika ada kebajikan sekecil zarrah niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar di sisi-Nya (An-Nisa: 40). 

Kalaulah begitu janji Allah maka bagaimana mungkin manusia ini menyalahkan Allah ketika mereka lalai dan ceroboh dalam mengendarai ken-daraannya sehingga bera-khir dengan kecelakaan. Bukankah Allah telah ber-­ rman: Dan tidaklah kami mendhalimi mereka, tetapi merekalah yang mend-halimi diri sendiri (Az-Zukhruf: 76). 

Dalam ayat lain Allah juga ber­ rman: wala talku biaidikum ilat-tahlukah (dan janganlah kamu menganiaya dirimu dengan tanganmu sendiri). Maknanya janganlah ma-nusia ini menghancurkan kehidupannya dengan ulah tangan mereka sendiri baik karena salah menge-mudi, ceroboh dalam berbuat sesuatu sehingga berakibat fatal dan seump-amanya.

Sesungguhnya Al-lah sudah berjanji tidak akan mendhalimi hamba-Nya (Qaf: 29) melainkan mereka sendirilah yang langsung atau tidak lang-sung, sengaja atau tidak sengaja telah mendhalimi diri mereka sendiri. Untuk mengikuti arahan-arahan Allah dalam Al-Qur’an al-karim maka sebagai hamba Allah yang takut kepada-Nya, jagalah diri dari kehancuran akiban ulah tangan sendiri, akibat brutal dan lalai di jalan raya. Berhati-hatilah dalam mengenderai kereta agar tidak keluar nyawa di jalan raya. Berhati hatilah dalam memandu mobil agar nyawa orang tidak berakhir di tangan kita. Dan berhati-hatilah dalam kehidupan serta ingat-lah selalu kepada tuhan walaupun di tengah jalan agar kita terselamatkan dan sampai ketujuan.

Berzikirlah dalam setiap perjalanan, ingat-lah selalu kepada tuhan seru sekalian alam, jangan sekali-kali melupakan-Nya karena ketika kita melupa-kan Allah boleh jadi Allah pun terlupa kepada kita sehingga kita bisa terbalik , tersungkur dan mati di jalan raya. Sambil menge-mudi ingatlah Allah dan ucapkanlah selalu kata-kata Allah, subhanallah, masya Allah, astagh­ rul-lah, Alhamdulillah Al-lahu akbar sesuai dengan kenyataan yang ada dalam perjalanan kita. Dengan demikian insya Allah, Allah pun akan mengawal dan menjaga kita dari kehancuran. Fazkuruwni azkurkum, wasykuruw liy wa la takfuruun (ingatlah daku niscaya Aku akan mengingatimu, bersy-ukurlah kepadaKu dan janganlah kamu ingkar kepadaKu).

Lalai, apalagi angkuh, sombong dan ugoh dalam mengendarai kenderaan di jalan raya dengan me-lupakan Allah merupa-kan bahagian dari meng-ingkali nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada Allah. Karena itu wahai kawula muda yang masih panas darahnya, ingat-lah engkau merupakan harapan bangsa di masa depan, engkau merupa-kan generasi penerus dan pembela Islam, engkau adalah titipan Allah untuk memimpin dan menguasai alam. Maka berhati-hatilah di jalan raya, ingat orang ter-sayang di rumah ketika sedang memandu secara laju dan tajam, perbaiki cara hidup dengan cara baik, sopan dan mus-lihat agar Allah senan-tiasa menyelamatkan kita dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak. Insya Allah
Hasanuddin Yusuf Adan


Kekeliruan Konsep Trinitas

Posted On 9/07/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.   

Allah Subhanahu wa ta’ala menjatuhkan kepu -tusan kafir terhadap beberapa golongan dari kaum Nasrani ,  karena sebagian dari mereka mengata-kan bahwa Almasih adalah tuhan. Mereka menya-takan bahwa Nabi Isa as adalah salah satu oknum dari tiga oknum dimensi ketuhanan, yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Ibu dan Isa pada periode-periode awal. Sedangkan  dalam keterangan sebelumnya telah disebutkan, mereka telah diberi tahu bahwa Al-Masih itu adalah hamba dan utusan Allah. Nabi Isa tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Allah, tidak pula sebagai anak Allah, melainkan dia sebagai hamba Allah dan salah seorang nabi-Nya
.
Dan ia selalu menyeru agar kaum Yahudi me-nyembah Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Bahkan dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah menanyakan kepada Nabi Isa tentang kelakuan umatnya yang menyembahnya sebagai Tuhan dan juga ibunya, kemudian Nabi Isa menjawab bahwa ia tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menyembahnya demikian pula untuk menyembah ibunya. Orang-orang yang seperti itulah yang dipastikan Allah menjadi penghuni neraka dan mengharamkan surga atasnya karena prilaku yang demikian adalah syirik dan syirik adalah dosa besar. Tiada yang dapat memperoleh syafaat dan penolongpun.

Begitulah sebagian prilaku kaum Nasrani pada masa awal dengan konsep trinitas yang mereka anut, bahkan sebagian Kristen masih menganggap konsep trinitas sebagai dogma keagamaan yang tidak dapat ditawar-tawar. Kita sebagai muslim tetap memiliki konsep bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, itulah konsep tauhid bagi muslim, Wallahu musta’an.
Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA


Konsep Silaturrahmi yang Ideal

Posted On 9/07/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Tgk. H. Masrul Aidi

Pondasi dasar berkembangnya agama Islam di Mekkah tidak terlepas dari metode pendekatan silaturrahmi yang dilakoni dengan sangat baik oleh Rasulullah saw sesuai dengan perintah Allah swt dalam Quran surat Syu’ara ayat 214.
Karena itu Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk bersilaturrahmi dengan janji yang sangat menggiurkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Barangsiapa yang senang dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umur, hendaklah bersilaturrahmi.”
Defenisi
Imam Raghib al-As-fahan mende­ nisikan silaturrahmi dengan: “Berbuat baik terhadap kerabat dalam bentuk ucapan dan perbuatan, termasuk dalam makna silaturrahmi adalah mengunjungi mereka, menanyakan berita tentang mereka, membantu memenuhi kebutuhan mereka dan berusaha untuk kemaslahatan mereka.”
Dari defenisi di atas dapat kita pahami bahwa silturrahmi tidak terbatas sekedar pada saling berkunjung, karena berkunjung hanya merupakan salah satu bentuk silaturrahmi, disamping bentuk-bentuk lain sebagaimana disebutkan dalam de­fenisi.
Anjuran bersilaturrahmi
Selain hadis yang telah disebutkan di atas, sangat banyak ayat Quran dan hadis yang menganjurkan silaturrahmi, Surat an-Nisa ayat 1 dengan tegas menyandingkan antara perintah taqwa kepada Allah dengan silaturrahmi dengan kerabat dan handai taulan. “... dan bertakwalah kalian kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya kalian saling meminta, dan (peliharalah) silaturrahmi, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
Ancaman
Dalam surat al-Baqarah ayat 27, Allah mende­fenisikan orang yang fasiq dengan tiga ciri : 1. Merusak  perjanjian dengan Allah 2.  Memutus silaturrahmi 3. Berbuat  kerusakan dimuka bumi Fasiq merupakan suatu sifat yang tercela didalam Islam yang menyebabkan
pelakunya di diskuali­fikasi dari beberapa kedudukan penting, diantaranya, orang fasik tidak boleh diangkat menjadi imam dalam salat, tidak boleh bertindak menjadi wali untuk menikahkan anggota keluarganya, orang fasiq tidak diterima kesaksiannya, dan banyak yang pantangan lainnya.
Itu baru sekelumit hukuman didunia, sedangkan di akhirat akan sangat beragam bentuk ancaman dari Allah untuk orang yang memutuskan silaturrahmi, diantaranyan terdapat dalam Quran surat Muhammad ayat 22 dan 23 “maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan silaturrahmi. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”
Tradisi
Konsep silaturrahmi yang demikian agung dalam syariat Islam, pada prakteknya kemudian dipersempit oleh tradisi yang ada, seakan-akan silturrahmi hanya terbatas pada akti­ tas saling mengunjungi antar kerabat dan handai taulan serta suguhan makanan dan minuman ala kadar dan itupun hanya diakui apabila terjadi di bulan Syawal ketika Idul Fitri dan di bulan Zul Hijjah ketika Idul Adha. Sedemikian kuatnya tradisi ini, sehingga pertemuan di waktu yang lain tidak dianggap sebagai silaturrahmi, dan pertemuan dihari raya pun tidak sah menjadi silturrahmi kecuali dengan datang berkunjung kerumah berikut dengan acara perbaikan gizi berupa makan dan minum.
Solusi
Akibat dari pemahan yang sempit tentang makna silaturrahmi, telah menyebabkan banyak hubungan persaudaraan yang putus karena tidak datang berkunjung di hari raya walaupun sehari sebelumnya telah datang pada hari “meugang” lengkap dengan tentengan daging dan sumber gizi lainnya.
Sempitnya pemahaman silaturrahmi telah pula menyebabkan biaya hari raya semakin melonjak, karena akti­ tas yang sepatutnya dijalani sepanjang tahun akhirnya terpaksa di “rapel” alias jamak ta’khir pada hari raya, barometernya dapat ditanyakan ke pihak Bank
Indonesia, berapa besar kebutuhan uang tunai dan receh sejak dari 25 Ramadan sampai dengan 10 Syawal.
Dampak lainnya adalah banyak PNS yang terpaksa dipotong TPK karena telat masuk kerja demi kejar target silaturrahmi disamping dampak tragis banyaknya nyawa melayang sia-sia.
Oleh karena itu, ada lah sangat penting bagi kita untuk mengembalikan makna silaturrahmi ke arah sebenarnya sesuai dengan tuntunan syariat bahwa setiap interaksi sosial yang positif antar individu adalah silaturrahmi, mudah-mudahan dengan pemahaman yang demikian, beban mental dan keuangan akan dapat direduksi, dan beban kerja pemerintah akan terkurangi, walaupun untuk memberikan pemahaman yang benar tersebut beban kerja para ulama dan ustad  bertambah berat. Wallahua’ l am


Hindari Mati di Jalan Raya

Posted On 9/07/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Kematian di jalan raya akibat kecelakaan lalu lintas adalah tragis, walaupun  kematian itu ajal yang tak dapat dihindari. Kematian seperti ini, tak diharapkan banyak orang, namun kesadaran kita tak cukup normal untuk menghindari kematian sia-sia seperti itu. Fenomena kecelakaan lalu lintas di negeri ini yang berakibat kematian dalam beberapa tahu terakhir telah menyamai jumlah kematian dalam  perang. 

Kita sebut mati sia-sia, sebab secara logis, kecelakaan lalu lintas masih dapat dihindari. Lihatlah beberapa faktot penyebab misalnya, pertama, kecelakaan terjadi akibat ledakan jumlah kenderaan, dapat dihindari dengan pengaturan yang ketat terhadap kenderaan tak layak jalan dan membatasi anak-anak di bawah umur mengenderainya tanpa izin (tanpa SIM). Juga dengan menambah pelebaran dan panjang jalan, atau  membangun jalan baru setiap tahun.  

Kedua, kecelakaan akibat kelemahan manusia. Hal ini dapat diantisipasi  dengan memperketat izin mengemudi. Syarat memperoleh SIM harus melewati seleksi yang ketat.

Tidak sembarangan mengeluarkan SIM, bukan hanya mengejar target pendapatan negara bertambah. Prosedur pembuatan SIM diharuskan melewati tes kesehatan psikologis untuk memastikan pengendara sepeda motor dan mobil benar-benar sehat fi sik dan mental.

Ketiga, memaksimalkan peran masyarakat dalam membangun kesadaran tertib lalu lintas. Harus dipahami, bahwa disiplin lalu lintas adalah bagian dari syariat Islam dan cerminan bangsa yang bermartabat. Selama ini indikator ketaatan dan ketaqwaan hanya dilihat dari disiplin menjalankan shalat dan ibadah lainnya, padahal tertib di jalan raya sama pentingnya dengan ibadah kepada Allah SWT. Paradigma ini perlu terus dikampanyekan kepada masyarakat. 

Karena itu, kita  melihat masalah disiplin lalu lintas, kecelakaan dan kematian di jalan raya merupakan masalah bangsa ummat Islam negeri ini yang perlu penanganan cepat dan terpadu, disertai langkah-langkah yang efektif. Tidak boleh membiarkan dunia internasional menyalahkan bangsa ini, karena lamban atau membiarkan lajunya angka kematian tak diharapkan itu. 

Dalam hal ini, perlu keterpaduan langkah antara Negara dan ulama dalam mencari solusi kecalakaan dan kematian di jalan raya. Bisa saja kita sepakat melembagakan gagasan: pelanggaran lalu lintas haram dan mendapat ganjaran setimpal di yaumil akhir. Inilah bentuk kontribusi syariat Islam dalam mengurangi kecelakaan lalu lintas. Tentu, jika pun kita sudah ikhtiar maksimal dan meninggal juga dengan cara tragis, itulah kekendak Allah SWT. 


Sunday, August 3, 2014

Pendidikan yang Memerdekakan Pasca Ramadhan

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Oleh Muhammad Yakub Yahya

Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf atas kurangnya semangat kita dalam melanjutkan spirit dari peringatan Nuzulul Qur’an, perintah iqra’, 17 Ramadhan lalu. Mohon maaf juga atas dosa sebagian kita, saya dan pembaca, yang tergolong besar juga. Dosa  malas belajar. Malas meneladankan anak-anak untuk membaca, tapi malangnya sukses memberi contoh suka nonton tv. Malas membaca, di samping itu tanda kurang mencintai ilmu, juga kurang menyukai pencinta ilmu.

Dosa orang tua, di antaranya, meneladankan dan memaksakan kesan ke generasi muda, bahwa belajar itu tugas anak-anak saja. Sedangkan bapak hanya mencari uang: meukat, meula-öt, meutani, meuglé, meukantö dan seterusnya. Konsep ini salah. Yang tepat adalah bapak, ibu dan anak sama-sama menuntut ilmu. Hanya beda cara dan jam belajar, tentu.

Kebanyakan kita, mungkin hanya menjadi orang keempat yakni ‘binatang yang berbicara’ yang tak belajar: bukan pelajar, bukan pengajar, dan bukan pendengar pembelajaran (menguping orang belajar). Dalam pandangan Allah, yang disebut ‘orang’ itu, yang mengisi siang dan malam itu dengan: belajar, atau mengajar, atau duduk-duduk menyimak --walaupun di teras masjid, mushalla, balè atau balai, sekolah-- akan pengajian atau pelajaran. Berapa di antara kita laksana ‘binatang’, yang berangkat pagi pulang senja, hanya untuk mengisi perut, bukan hati dan otak. “Lebih baik perut kosong daripada kepala kosong,” banding satu pepatah.

Membaca itu jalan belajar. Memang, daripada tak belajar sama sekali, sudah tercatat dan terus bertekad sebagai santri, murid, thâliban, student’s, siswa, mahasiswa, thulab, ureueng beuet, atau ureueng meureunoe sepekan sekali, sekali dua pekan pun boleh. Asal rutin dan kontinyu. Status pelajar hingga mati, ini syarat yang memudahkan ampunan Allah. Andai kita kurang di sana sini dalam mutu ibadah dan nilai hidup ini, Insya Allah, diampuni-Nya. Sebab kita orang ‘kurang ajar’ atau yang sedang belajar.     

Pendidikan ada rukunnya. Fasilitas dan biaya, di antaranya. Biaya pun hanya urutan terakhir, menurut Imam Syafi‘i, agar bisa pandai atau alim. Sedangkan yang penting adalah ada kemauan (gigih), punya otak (waras, tak ideot), waktu yang banyak (bukan sambilan), buku (kitab) dan perlengkapan, dan petunjuk guru (teungku, guru, dosen). Ada yang terpenting dari itu adalah niat. Kesadaran mendapat ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan kompromi dengan hati yang kotor, atau bercampur antara yang haq dan bathil. Menjalani suka duka di dunia pendidikan adalah jihad bagi pencapaian keutamaan. Kuncinya adalah tulus supaya lempang untuk lulus. Mahasiswa baru, murid baru, pemimpin hari esok, mari perbaiki niat sebelum telat, sebelum akhir semester.  

 “Bagaimana tipe pemuda hari ini, begitu rupa masyarakat esok.” Demikian Imam Al-Ghazali mengingatkan kita. Hari ini, kita sedang membenah sistem dan fasilitas pendidikan, usai musibah. Lewat tuntunan guru di sekolah, tontonan di masyarakat, bacaan di kamarnya, orang tua sekarang sedang memberi pilihan, corak dan warna apa  baju kehidupan putra-putrinya. Jika anak jarang di rumah, bolos dari sekolah, tak mau mengaji, lingkungan akan mengajarkan nilai apa pun, postif dan negatif. Lingkungan di mana pun, ialah sekolah ketiga setelah bangku sekolah dan pendidikan keluarga.

Menatap potret anak didik hari ini, pilihan mendesak untuk mendesain dan merehab keluarga agar lebih mencinta ilmu dan komunitas sosial yang sehat secara edukasi. “Jika ingin sukses di masa depan, cerdaskanlah anak-anak anda.” Demikian kata-kata  bijak klasik. Kita baru peringati hari anak 23 Juli, dalam puasan, dan dalam Syawal 1435 H, kita rayakan HUT RI 2014, moga kita merdekakan dari perbudakan kemalasan dan kebodohan.

Karakter anak tak perlu diubah, apalagi secara kasar, menurut kemauan kita sekarang. Namun hanya perlu diberi warna secukupnya, agar lebih islami. Sebab dunia dia kelak, bukan lagi seperti dunia kita sekarang. Mereka mesti dinamis dengan problemnya. Tantangannya bukan seperti tantangan kita sekarang. Dalam memori otak anak, tatkala tampil dalam keluarga dan masyarakat, bukanlah bagaikan gelas kosong. Dia telah diwarnai duluan oleh lingkungan (mileu), jahat atau baik.   

Pendidikan semestinya akan membuka cakrawala peri kehidupannya, bukan malah terkungkung dalam kemandegan. Seharusnya anak, seperti harap Malcolm Forbes bahwa, “Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka.” Tidak boleh terjadi, visi murid, anak kita, kian picik sesempit ruang kantin, funland, game, atau PS (play station) yang dia singgahi. Lingkungan mesti mencerdaskan dan membuka cakrawala anak. “Kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tetapi belum tentu bisa membuatnya berpikir,” ejek Finley Peter Dunne lagi.

Visi guru juga tidak terkungkung dalam kelas. Pandangannya wajib jauh, hingga ke akhirat. Guru harus melihat, anak didik bukan dia yang sekarang dididik, tapi dia puluhan tahun yang akan datang. Jadi pendidikan untuk anak tidak hanya berputar pada persoalan spesifik: bagaimana menghadapi tetek bengek anak, mengembangkan kreativitas dan menjawab pertanyaan ‘aneh’ dan ‘gawat’ anak, dan yang bersifat atomik picik. Namun lebih daripada itu, pendidikan anak sebagai sub-sistem dari pembangunan kebudayaan dan peradaban Islam yang lebih menyeluruh dalam lingkup global atau mondial (mendunia). Pendidik membutuhkan kemampuan pendidik yang memadai dan ‘tinggi’. Guru mesti memiliki wawasan yang luas. Di manakah kita tumbuh? “Tuhan tidak pernah menaruh kita di tempat yang terlalu kecil untuk tumbuh,” kata orang bijak. Kita dan santri mesti diberi visi besar. “Kita harus memikirkan hal-hal besar saat kita melakukan hal-hal kecil, sehingga semua perkara kecil berjalan ke arah yang benar,” ramal Alvin Toffler.   

Cepat tanggap dengan penuh kebijakan dan kebijaksanaan adalah gaya dan peforman lain dari guru dan ustadz. Teladan guru dan kepala keluarga akan membentuk prilaku anak. “Tujuan pendidikan yang paling tinggi bukanlah pengetahuan, melainkan perbuatan,” ujar Herbert Spencer. Generasi Islam yang pandai yang telah menggenggam dunia dulu adalah pelajar dan sarjana yang tawadhu’. Tanpa menantang perintah Tuhan. Jangan sampai anak-anak kita cuma pandai intelektualitsa, tapi bodoh spiritualitas. Juga emosionalnya.
Penulis, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh


Inspirator Anak Menghafal Qur’an

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Sausan, Juara Favorit Hafizh Qur’an

Sebelum berangkat mengikuti Hafizh Qur’an (HQ) di Stasiun TV Trans 7 Jakarta pada Juni lalu, Amira Sausan Karima adalah sosok anak perempuan tomboy baik dalam berpakaian maupun kesukaan akan jenis permainan. Perubahan luar biasa mulai terlihat di mana genap sebulan ini hari-harinya diisi berinteraksi dan berfatabiqul khairat dengan sesama hafizh-hafizhah dalam memperbanyak hafalan dibimbing langsung oleh Ustad Bachtiar Nasir selaku mentor beserta rekan.

Kini ia selalu berhijab rapi walaupun warna-warni sebagaimana Gema menemui anak perempuan kelahiran Medan, 23 Oktober 2006 dengan segudang prestasi ini di rumah kediaman Illiza Sa’aduddin Djamal, Walikota Banda Aceh, Kamis (31/7).

Siang itu, Sausan-- panggilan akrabnya, masih dalam suasana Idul Fitri dijamu Bu Illiza sekaligus memberikan hadiah khusus bagi Juara II Hafiz Qur’an yang diumumkan pada Sabtu (26/7) lalu. Putri bungsu dari 3 bersaudara asal Blang Krueng Aceh Besar ini ditemani kedua orangtuanya Muhammad Nizar dan Syarifah Qadria bersama Ghufran Zainal Abidin, Anggota DPRA.

Menghafal al Qur’an, sebenarnya baru digeluti Sausan dalam setahun ini. Ibunya melihat sisi lain dari kemampuan putrinya dengan menjuarai berbagai macam lomba baik pada tingkat Banda Aceh maupun Provinsi Aceh. Daya ingat Sausan menginspirasi ibu untuk mencoba hafalan Qur’an. Ternyata Sausan memang istimewa dengan mudah beberapa surah dihafalnya, sampai akhirnya genap juzz 30 dikuasai dengan baik. Saat dibuka audisi untuk paket Hafiz QuranTrans 7 TV, Sausan terpilih beserta kedua rekan lainnya Nawala dan Naylatus mewakili Banda Aceh bersaing bersama puluhan hafiz cilik nusantara lainnya.

Sausan melenggang mulus menuju grand final, sementara kedua rekannya pulang lebih cepat karena tereliminasi suara polling. Namun, anak bungsu dari 3 bersaudara ini belum mampu menyaingi Sabrina dari Bogor yang tampil sebagai pemenang. Walau sebagai runner up, warga Aceh patut bersyukur karena siswa kelas 3 MIN Model Banda Aceh ini dinobatkan sebagai Peserta Pavorit HQ 2014 pilihan dewan juri dan pemirsa.

Ada satu pesan khusus berupa tantangan yang disampaikan Ust Bachtiar yaitu Sausan harus mampu menghafal 5 juz al Quran dalam tempo 5 bulan. Namun, ibunya yang membimbing haflahnya di rumah yakin, putrinya dapat memenuhi tuntutan mentor. Menurut Syarifah, sewaktu menuju Jakarta untuk bersaing dengan seluruh anak-anak hafizh pilihan se-nusantara pertengahan Juni lalu, Sausan baru menguasai hafalan juzz 30, kini juzz pertama surah-surah al Qur’an pun telah dihapalnya.
 
Kini Sausan bukan lagi milik Banda Aceh dan Aceh bahkan jutaan kaum muslimin se-tanah air akan mengenangnya dengan tampil sempurna juga menggemaskan pemirsa dan mentor. Karenanya tidak berlebihan apabila Illiza sebagai Walikota Banda Aceh menyebutnya penuh bangga, “Sausan adalah inspirator bagi anak-anak Aceh dalam menghafal al Qur’an.” Semoga dengan kemenangan Sausan akan memotivasi anak-anak Aceh dalam menghafal, mencintai, hidup dan mati bersama al Qur’an,” demikian Illiza. NA Riya Ison


POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2014 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id