Sunday, August 3, 2014

Pendidikan yang Memerdekakan Pasca Ramadhan

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Oleh Muhammad Yakub Yahya

Mohon maaf lahir dan batin. Mohon maaf atas kurangnya semangat kita dalam melanjutkan spirit dari peringatan Nuzulul Qur’an, perintah iqra’, 17 Ramadhan lalu. Mohon maaf juga atas dosa sebagian kita, saya dan pembaca, yang tergolong besar juga. Dosa  malas belajar. Malas meneladankan anak-anak untuk membaca, tapi malangnya sukses memberi contoh suka nonton tv. Malas membaca, di samping itu tanda kurang mencintai ilmu, juga kurang menyukai pencinta ilmu.

Dosa orang tua, di antaranya, meneladankan dan memaksakan kesan ke generasi muda, bahwa belajar itu tugas anak-anak saja. Sedangkan bapak hanya mencari uang: meukat, meula-öt, meutani, meuglé, meukantö dan seterusnya. Konsep ini salah. Yang tepat adalah bapak, ibu dan anak sama-sama menuntut ilmu. Hanya beda cara dan jam belajar, tentu.

Kebanyakan kita, mungkin hanya menjadi orang keempat yakni ‘binatang yang berbicara’ yang tak belajar: bukan pelajar, bukan pengajar, dan bukan pendengar pembelajaran (menguping orang belajar). Dalam pandangan Allah, yang disebut ‘orang’ itu, yang mengisi siang dan malam itu dengan: belajar, atau mengajar, atau duduk-duduk menyimak --walaupun di teras masjid, mushalla, balè atau balai, sekolah-- akan pengajian atau pelajaran. Berapa di antara kita laksana ‘binatang’, yang berangkat pagi pulang senja, hanya untuk mengisi perut, bukan hati dan otak. “Lebih baik perut kosong daripada kepala kosong,” banding satu pepatah.

Membaca itu jalan belajar. Memang, daripada tak belajar sama sekali, sudah tercatat dan terus bertekad sebagai santri, murid, thâliban, student’s, siswa, mahasiswa, thulab, ureueng beuet, atau ureueng meureunoe sepekan sekali, sekali dua pekan pun boleh. Asal rutin dan kontinyu. Status pelajar hingga mati, ini syarat yang memudahkan ampunan Allah. Andai kita kurang di sana sini dalam mutu ibadah dan nilai hidup ini, Insya Allah, diampuni-Nya. Sebab kita orang ‘kurang ajar’ atau yang sedang belajar.     

Pendidikan ada rukunnya. Fasilitas dan biaya, di antaranya. Biaya pun hanya urutan terakhir, menurut Imam Syafi‘i, agar bisa pandai atau alim. Sedangkan yang penting adalah ada kemauan (gigih), punya otak (waras, tak ideot), waktu yang banyak (bukan sambilan), buku (kitab) dan perlengkapan, dan petunjuk guru (teungku, guru, dosen). Ada yang terpenting dari itu adalah niat. Kesadaran mendapat ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan kompromi dengan hati yang kotor, atau bercampur antara yang haq dan bathil. Menjalani suka duka di dunia pendidikan adalah jihad bagi pencapaian keutamaan. Kuncinya adalah tulus supaya lempang untuk lulus. Mahasiswa baru, murid baru, pemimpin hari esok, mari perbaiki niat sebelum telat, sebelum akhir semester.  

 “Bagaimana tipe pemuda hari ini, begitu rupa masyarakat esok.” Demikian Imam Al-Ghazali mengingatkan kita. Hari ini, kita sedang membenah sistem dan fasilitas pendidikan, usai musibah. Lewat tuntunan guru di sekolah, tontonan di masyarakat, bacaan di kamarnya, orang tua sekarang sedang memberi pilihan, corak dan warna apa  baju kehidupan putra-putrinya. Jika anak jarang di rumah, bolos dari sekolah, tak mau mengaji, lingkungan akan mengajarkan nilai apa pun, postif dan negatif. Lingkungan di mana pun, ialah sekolah ketiga setelah bangku sekolah dan pendidikan keluarga.

Menatap potret anak didik hari ini, pilihan mendesak untuk mendesain dan merehab keluarga agar lebih mencinta ilmu dan komunitas sosial yang sehat secara edukasi. “Jika ingin sukses di masa depan, cerdaskanlah anak-anak anda.” Demikian kata-kata  bijak klasik. Kita baru peringati hari anak 23 Juli, dalam puasan, dan dalam Syawal 1435 H, kita rayakan HUT RI 2014, moga kita merdekakan dari perbudakan kemalasan dan kebodohan.

Karakter anak tak perlu diubah, apalagi secara kasar, menurut kemauan kita sekarang. Namun hanya perlu diberi warna secukupnya, agar lebih islami. Sebab dunia dia kelak, bukan lagi seperti dunia kita sekarang. Mereka mesti dinamis dengan problemnya. Tantangannya bukan seperti tantangan kita sekarang. Dalam memori otak anak, tatkala tampil dalam keluarga dan masyarakat, bukanlah bagaikan gelas kosong. Dia telah diwarnai duluan oleh lingkungan (mileu), jahat atau baik.   

Pendidikan semestinya akan membuka cakrawala peri kehidupannya, bukan malah terkungkung dalam kemandegan. Seharusnya anak, seperti harap Malcolm Forbes bahwa, “Tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka.” Tidak boleh terjadi, visi murid, anak kita, kian picik sesempit ruang kantin, funland, game, atau PS (play station) yang dia singgahi. Lingkungan mesti mencerdaskan dan membuka cakrawala anak. “Kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tetapi belum tentu bisa membuatnya berpikir,” ejek Finley Peter Dunne lagi.

Visi guru juga tidak terkungkung dalam kelas. Pandangannya wajib jauh, hingga ke akhirat. Guru harus melihat, anak didik bukan dia yang sekarang dididik, tapi dia puluhan tahun yang akan datang. Jadi pendidikan untuk anak tidak hanya berputar pada persoalan spesifik: bagaimana menghadapi tetek bengek anak, mengembangkan kreativitas dan menjawab pertanyaan ‘aneh’ dan ‘gawat’ anak, dan yang bersifat atomik picik. Namun lebih daripada itu, pendidikan anak sebagai sub-sistem dari pembangunan kebudayaan dan peradaban Islam yang lebih menyeluruh dalam lingkup global atau mondial (mendunia). Pendidik membutuhkan kemampuan pendidik yang memadai dan ‘tinggi’. Guru mesti memiliki wawasan yang luas. Di manakah kita tumbuh? “Tuhan tidak pernah menaruh kita di tempat yang terlalu kecil untuk tumbuh,” kata orang bijak. Kita dan santri mesti diberi visi besar. “Kita harus memikirkan hal-hal besar saat kita melakukan hal-hal kecil, sehingga semua perkara kecil berjalan ke arah yang benar,” ramal Alvin Toffler.   

Cepat tanggap dengan penuh kebijakan dan kebijaksanaan adalah gaya dan peforman lain dari guru dan ustadz. Teladan guru dan kepala keluarga akan membentuk prilaku anak. “Tujuan pendidikan yang paling tinggi bukanlah pengetahuan, melainkan perbuatan,” ujar Herbert Spencer. Generasi Islam yang pandai yang telah menggenggam dunia dulu adalah pelajar dan sarjana yang tawadhu’. Tanpa menantang perintah Tuhan. Jangan sampai anak-anak kita cuma pandai intelektualitsa, tapi bodoh spiritualitas. Juga emosionalnya.
Penulis, Direktur TPQ Plus Baiturrahman Banda Aceh


Inspirator Anak Menghafal Qur’an

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Sausan, Juara Favorit Hafizh Qur’an

Sebelum berangkat mengikuti Hafizh Qur’an (HQ) di Stasiun TV Trans 7 Jakarta pada Juni lalu, Amira Sausan Karima adalah sosok anak perempuan tomboy baik dalam berpakaian maupun kesukaan akan jenis permainan. Perubahan luar biasa mulai terlihat di mana genap sebulan ini hari-harinya diisi berinteraksi dan berfatabiqul khairat dengan sesama hafizh-hafizhah dalam memperbanyak hafalan dibimbing langsung oleh Ustad Bachtiar Nasir selaku mentor beserta rekan.

Kini ia selalu berhijab rapi walaupun warna-warni sebagaimana Gema menemui anak perempuan kelahiran Medan, 23 Oktober 2006 dengan segudang prestasi ini di rumah kediaman Illiza Sa’aduddin Djamal, Walikota Banda Aceh, Kamis (31/7).

Siang itu, Sausan-- panggilan akrabnya, masih dalam suasana Idul Fitri dijamu Bu Illiza sekaligus memberikan hadiah khusus bagi Juara II Hafiz Qur’an yang diumumkan pada Sabtu (26/7) lalu. Putri bungsu dari 3 bersaudara asal Blang Krueng Aceh Besar ini ditemani kedua orangtuanya Muhammad Nizar dan Syarifah Qadria bersama Ghufran Zainal Abidin, Anggota DPRA.

Menghafal al Qur’an, sebenarnya baru digeluti Sausan dalam setahun ini. Ibunya melihat sisi lain dari kemampuan putrinya dengan menjuarai berbagai macam lomba baik pada tingkat Banda Aceh maupun Provinsi Aceh. Daya ingat Sausan menginspirasi ibu untuk mencoba hafalan Qur’an. Ternyata Sausan memang istimewa dengan mudah beberapa surah dihafalnya, sampai akhirnya genap juzz 30 dikuasai dengan baik. Saat dibuka audisi untuk paket Hafiz QuranTrans 7 TV, Sausan terpilih beserta kedua rekan lainnya Nawala dan Naylatus mewakili Banda Aceh bersaing bersama puluhan hafiz cilik nusantara lainnya.

Sausan melenggang mulus menuju grand final, sementara kedua rekannya pulang lebih cepat karena tereliminasi suara polling. Namun, anak bungsu dari 3 bersaudara ini belum mampu menyaingi Sabrina dari Bogor yang tampil sebagai pemenang. Walau sebagai runner up, warga Aceh patut bersyukur karena siswa kelas 3 MIN Model Banda Aceh ini dinobatkan sebagai Peserta Pavorit HQ 2014 pilihan dewan juri dan pemirsa.

Ada satu pesan khusus berupa tantangan yang disampaikan Ust Bachtiar yaitu Sausan harus mampu menghafal 5 juz al Quran dalam tempo 5 bulan. Namun, ibunya yang membimbing haflahnya di rumah yakin, putrinya dapat memenuhi tuntutan mentor. Menurut Syarifah, sewaktu menuju Jakarta untuk bersaing dengan seluruh anak-anak hafizh pilihan se-nusantara pertengahan Juni lalu, Sausan baru menguasai hafalan juzz 30, kini juzz pertama surah-surah al Qur’an pun telah dihapalnya.
 
Kini Sausan bukan lagi milik Banda Aceh dan Aceh bahkan jutaan kaum muslimin se-tanah air akan mengenangnya dengan tampil sempurna juga menggemaskan pemirsa dan mentor. Karenanya tidak berlebihan apabila Illiza sebagai Walikota Banda Aceh menyebutnya penuh bangga, “Sausan adalah inspirator bagi anak-anak Aceh dalam menghafal al Qur’an.” Semoga dengan kemenangan Sausan akan memotivasi anak-anak Aceh dalam menghafal, mencintai, hidup dan mati bersama al Qur’an,” demikian Illiza. NA Riya Ison


Jangan Tinggalkan Al-Qur’an Setelah Ramadhan

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Ramadhan bulan latihan, namun banyak pasca Ramadhan orang-orang kembali berbuat sebagaimana sebelum Ramadhan. Masjid yang selama Ramadhan penuh kini mulai kosong, Shalat malam dulunya rajin, kini semakin berkurang bahkan tidak dikerjakan. Lalu apa yang tersisa? Berikut Petikan wawancara dengan Bapak Fathurrahmi MSi (Dosen Fakultas MIPA Unsyiah dan BKM Masjid Jami’ Kampus Unsyiah)
 
Bagaimana kondisi masyarakat kita pasca Ramadhan ini?
Masih sama dengan tahun-tahun lalu. Masjid masih banyak kosong. Awal Ramadhan mungkin masjid penuh, namun pasca Ramadhan atau awal Syawal kita lihat shalat Dzuhur dan Ashar kembali sama dengan sebelum-sebelum Ramadhan

Penyebabnya kenapa ini Ustadz?
Penyebabnya ini beda-beda, tergantung orang-orangnya masing-masing. Ada yang bersemangat di bulan Ramadhan karena ikut-ikutan atau hanya sekedar ibadah musiman saja, berhubung banyak orang beribadah merasa tidak enak jika tidak ikut meramaikan.
 
Berarti banyak belum berubah kepada kebaikan?
Iya, makanya tugas kita sebagai da’i terus mengingatkan. Kita (remaja masjid) biasa melakukan program-program seperti dalam bulan Ramadhan, misalnya kajian atau shalat malam berjama’ah tetap berjalan di bulan-bulan selain Ramadhan.
 
Bagaimana kiat-kiat menjaga konsistensi semangat Ramadhan?
Itu tergantung masing-masing orang. Kalau saya sendiri, bagaimana menjaga suasana hati sebagaimana telah dirasakan selama 30 hari dilatih Ramadhan. Misal, dulu berpuasa menahan lapar, lalu kita melanjutkan shalat malam dengan ikhlas, kemudian juga membaca Al-Qur’an, harus dapat dilanjutkan di bulan-bulan selanjutnya.
 
Mengapa masih ada orang-orang pada bulan Ramadhan rajin beribadah, setelah Ramadhan berakhir, kondisi kembali seperti sebelum Ramadhan?Ya, mungkin saja mereka merasa selama Ramadhan terpenjara dan setelah selesai Ramadhan mereka merasa terbebas dari penjara. Jadi Ramadhan dianggap sebagai penjara atau hukuman, bukan dijadikan sebagai bulan latihan yang menjadi batu loncatan menuju ketakwaan dan keshalihan.
 
Bagaimana menjaga konsistensi keshalehan Ramadhan ini lebih bermakna?
Pertama, Allah menjelaskan di dalam Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183-185 yaitu kita harus bisa menjaga kesalehan pribadi dan sosial, sebagaimana Allah Swt. menyuruh kepada orang-orang yang tidak mampu lagi berpuasa untuk membayar fidyah. Selain puasa itu menyehatkan diri, jika tidak mampu melakukannya hukuman yang Allah berikan pun berupa kebaikan bagi kebaikan sosial berupa fidyah yang dibayarkan. Kedua, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Albaqarah juga bahwa di bulan Ramadhan adalah masa dimana al-Qur’an diturunkan, jadi jangan tinggalkan Al-Qur’an setelah kita bermesraan dengannya di bulan Ramadhan. Darlis


Puasa Sarana Membangun Ukhuwah & Kejujuran

Posted On 8/03/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Ada yang berbeda di Idul Fitri kali ini, di hari raya yang ke-1435 ini, umat Islam di seantero dunia berduka. Bagaimana tidak, saudara seiman di Ghaza-Palestina ditempa ujian keimanan begitu berat. Di sini melaksanakan ibadah puasa dengan penuh khusyu’, akan tetapi mereka di Ghaza berpuasa sembari menanti serangan yahudi la’natullah’alaihim. Dan ketika di hari raya kali ini kita merayakannya dengan penuh suka cita, mereka di sana merayakan dengan serangan membabibuta.

Layaknya seperti itulah seruan khatib yang memberikan khutbah di Masjid Agung Al-Makmur Lamprit oleh Drs A Karim Syech MA. Selain menyerukan agar mendo’akan saudara se-iman di Palestina, khatib juga mengajak agar seluruh umat Islam di Banda Aceh bersatu dan jangan berselisih baik dalam hal kehidupan maupun dalam ibadah, jangan terpecahbelah hanya gara-gara ibadah sunah, karena perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Idul Fitri mengajarkan kepada kita untuk saling mencintai, saling mengunjungi dan bersilaturrahim bukan sebaliknya kita berpecah belah dan tidak saling menyapa.

Di tempat yang berbeda, Dr H Mustanir MSc selaku khatib Idul Fitri di Lapangan Tugu Unsyiah menyatakan bahwa Idul Fitri merupakan sarana untuk membangun pribadi jujur. Khutbah yang mengangkat Tema, “Puasa dan Upaya Membangun Karakter Jujur” ini dihadiri oleh sebagian besar masyarakat Kampus Darussalam dan sekitarnya, Senin (28/7).

Dalam khutbahnya, Mustanir mengutip sebuah riwayat sebagaimana pernah diceritakan ketika Imam Hasan Al Bashri mendekati seorang anak yang sedang menggembalakan puluhan domba milik majikannya. Sang Imam membujuk agar anak itu bersedia menjual seekor domba gembalaannya kepadanya. Namun sang anak gembala yang tidak mengetahui kalau pria itu adalah Imam Hasan Al Bashri menolaknya dengan alasan bahwa domba-domba itu bukan miliknya. Hasan Al Bashri pun terus membujuk dengan berkata, “Bukankah majikanmu tidak akan mengetahui kalau dombanya dijual satu ekor saja.”

Sang anak gembala pun menjawab, “Memang majikan saja tidak tahu, tapi Allah yang berada di atas langit sana pasti Maha Mengetahuinya.” Dia pun menunjuk ke arah langit. Melihat kejujuran anak gembala itu, sang Imam terkesima lalu memeluk dan menciumi kepala anak itu. Bahkan dalam sebuah riwayat beliau juga berdoa bagi kebaikan anak gembala itu.

Kejujuran yang dimiliki anak gembala tersebut dirasakan saat ini merupakan sifat langka ditemui dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan saat ini negara kita sulit mencari manusia-manusia yang memiliki sifat mulia tersebut. Hal itu dapat diukur dari semakin maraknya praktik korupsi, kolusi, manipulasi, dan budaya mark-up di negeri ini.

Kejujuran (ash shidq) merupakan salah satu sifat utama yang harus dimiliki orang-orang beriman. Begitu pentingnya sifat mulia itu, sehingga tidak kurang dari 145 kali disebut dalam Al Qur’an. Rasulullah SAW pun memerintahkan umatnya untuk berbuat jujur.

Namun, disayangkan kondisi hari ini berkata lain. Kejujuran sudah menjadi barang mahal karena susah didapatkan. Hari ini tidak ada lagi perasaan malu ketika orang berbuat tidak jujur, bahkan sebaliknya menjadi sebuah kebanggaan ketika berhasil membohongi orang lain. Bahkan berani  memfitnah hingga memojokkan orang lain pun dilakukan dengan senang hati, dengan dalih untuk memuluskan tujuan.

Ibadah puasa yang kita laksanakan pada Ramadhan ini merupakan sarana untuk melatih kita berbuat jujur. Sebab hanya kita sendiri dan Allah SWT yang mengetahui bahwa kita benar-benar berpuasa atau tidak. Tidak sedikit di antara umat Islam yang di hadapan orang lain terlihat berpuasa, ikut makan sahur, dan turut berbuka puasa, namun secara diam-diam dia sebenarnya tidak berpuasa. Selain itu, orang yang benar-benar berpuasa dilatih kejujurannya. Secara hukum puasanya tidak batal ketika seseorang berbuat tidak jujur, namun ibadah puasanya telah rusak, artinya ia tidak mendapatkan pahala, malahan dosa yang diperolehnya, meskipun ia telah merasakan haus dan lapar.

Karena itu dengan berpuasa kita dilatih untuk memberikan penyadaran kehadiran Allah SWT. Jadi apa pun aktivitas yang kita lakukan yang sifatnya membatalkan puasa, kita tidak ingin  melakukannya walaupun orang lain tidak pernah tahu, tapi kita yakin Yang Maha Tahu melihatnya. Kalau ini sudah menjadi pedoman bagi kita, maka terciptalah kejujuran dalam setiap diri manusia dan kalau kejujujuran sudah tercipta otomatis tidak akan ada masalah-masalah sosial yang muncul dalam kehidupan.

Kita berharap hendaknya kejujuran ini tidak hanya diterapkan dalam pelaksanaan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan ini, tapi hendaknya harus diiringi dalam pelaksanaan aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seorang pejabat yang memegang amanah tidak lagi mau berbuat tidak jujur dengan menggelapkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sehingga dengan demikian perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme juga akan bisa ditekan di negeri ini. Darlis


Saturday, August 2, 2014

Memaafkan itu Bijak

Posted On 8/02/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Dr Tgk. H. Syamsul Rijal, M.Ag  
Dosen Filsafat Islam pada 
Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry Aceh
 
Meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukan adalah pekerjaan baik dan lebih mulia adalah mereka yang memberikan kemaafan tanpa diminta atas kekhilafan  yang telah dilakoni, oleh karena itu memaafkan itu adalah bijak. Bagaimanapun sisi kehidupan dalam manusia berinteraksi tidak tertutup kemungkinan terjadi gesekan akibat kepentingan yang berbeda dan diperburuk lagi menyeret mereka kepada dialog dan wacana ke lembah pertikaian, keadaan buruk ini sejatinya menjadi solutif ketika hadir kata maaf dan akan lebih  tepat saling memaafkan sehingga jalan Instrospeksi diri terbuka dan ukhuwwah terjalin dengan baik. Perintah menjaga ukhuwwah adalah sesuatu yang esensial dalam berIslam, bahkan kondisi ini menjadi cermin dimana komunitas Islam itu berada.

Kenyataan empiris menunjukkan dan  berlaku bahwa dalam interaksi sosial di tengah komunitas yang tumbuh dan berkembang dipicu dengan kehidupan yang kompetetif melahirkan situasi kehidupan penuh dengan  persaingan untuk mencapai tujuan yang menjadi asa kehidupannya. Mereka yang mengedepankan  keinginan semata lupa dengan entitas normatif serta moralis akan terjebak dengan pencapaian tujuan yang semu. Sebaliknya, mereka yang memiliki nilai nilai normatif sebagai dasar berpijak akan lebih terlindungi dari sikap melampaui batas dalam pencapaian keinginan dimaksud, pantastis memang, namun itulah realitas sebuah kehidupan.

Kehidupan itu adalah perjuangan, dan perjuangan untuk kehidupan itu penuh dengan kompetisi, mereka yang berkompetisi secara sehatlah yang akan mampu merasakan nikmat kehidupan yang esensial, yaitu kehidupan yang berada di bawa redhaNya. Pergulatan anak  manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mengabaikan entitas normatif memiliki kecenderungan  akan melakukan apa saja yang di dalam benaknya itu dapat mengantarkan kepada tujuan kesenangan yang akan dicapai. Sebaliknya, terdapat juga diantara mereka lebih mengedepankan subtansi normatif-religie sebagai dasar gerakan kehidupannya sehingga mereka mencapai suasana kehidupan sesungguhnya, yaitu kehidupan yang mendapatkan berkah serta ridha-Nya.

Nah dalam sebuah format kehidupan yang mengabaikan entitas normatif, ketika mereka terjebak dalam persaingan hidup mereka lebih memilih persaingan yang tidak sehat, sehingga terdorong untuk saling menista, menjelekkan, mengupat, mencaci kaki, dan bahkan memfitnah agar tujuan kehidupan itu tercapai. Dalam sisi kehidupan ini terciptalah tatanan komunitas yang tidak sehat, dimana antar interaksi transpersonal saling berburu cita dengan jalan menjatuhkan pesaingnya dalam cara cara yang tidak wajar dan bahkan tidak benar.

Wahai manusia, saatnya anda di waktu terkini mengevaluasi kembali apa yang telah anda lakukan, temukanlah entitas kekhilafan dengan bersegeralah memperbaikinya serta memperbanyak aktifitas saleh untuk sebuah proses mempercepat mendapatkan maghfirahNya, itulah dinamika serta sikap hidup yang esensial menuju kehidupan yang diredhaiNya.

Terkait dengan prihal kohesi-sosial interpersonal yang tidak sehat selama ini, adalah bijak menyegerakan diri meminta kemaafan dan adalah juga mulia mengambil sikap memaafkan segala kesalahan terhadap orang orang yang telah berbuat kesalahan terhadap anda, itupun dalam kadar entitas kesalahan yang dapat dimaafkan, terkait dengan piutang dan atau kesalahan yang tidak termaafkan bicarakanlah (rekonsiliasi) dengan lemah lembut dan bijak segera mencari solusi sehingga tidak larut  dengan mendendam asa. Karena itu sesuatu yang dapat merusak sendi ukhuwwah yang telah digariskan dalam berIslam harus dijaga dengan baik, semua anda adalah  bersaudara, jagalah persaudaraan itu dalam situasi bagaiama pun jua karena di sana terdapat nilai hikmah besar dalam menjalani misteri kehidupan ini.

Kehidupan transpersonal seseorang dengan lainnya acapkali tidak sejalan dengan keinginan wacana yang dikehendaki sehingga pada gilirannya memantik perselisihan dan bahkan menggiring kepada pertikaian yang menyebabkan rusaknya hubungan transpersonal yang seharusnya. Kehadiran manusia dalam kenyataan realitas yang kita amati adalah terdiri dari berbagai etnisitas serta ragam kelamin membuka peluang interaksi agar mereka dapat saling berkenalan berinteraksi berbagi asa mengisi kehidupan yang baik dan mulia, namun semua strata sosial yang dimiliki itu adalah bernilai sama di sisi Allah kecuali mereka yang memiliki entitas Taqwa (baca: inaa akramakum indallah atqakum).

Hentikan semua pertikaian kehidupan ini, kembalilah ke jalan persahabatan dengan mengisi kehidupan berbasiskan persaudaraan, saling isi mengisi serta bahu membahu dengan segenap potensi yang ada adalah lebih bijak ketimbang mengedepankan pertikaian, perselisihan, dan wacana keinginan yang tidak sehat di dalam mengisi formasi kehidupan. Adalah setiap insan memiliki nilai kearifan kehidupannya di dalam atmosfir pergaulan yang mendera kekhilafan dalam berperilaku saatnya kembali kepada nuansa kemaafan, bukankah entitas memaafkan itu bagian integratif dari nilai subtansial dari pribadi yang berTaqwa (Q. 3:134). Sebagai rekomendasi diskursus tausiyah ini adakah patut direnungkan sebuah ungkapan kata bijak yang menyebutkan bahwa “qimat al-akhlaq an ta’fu, wa anta qadir ala al-intiqam”, ya benar, nilai esensial dalam prilaku mulia itu adalah ketika seseorang memiliki kemampuan memberikan kemaafan terhadap orang lain di saat mana seseorang itu berkemampuan juga mendendam asa atas kekeliruan yang dilakukan terhadapnya.

Bersegeralah dalam logika sigap memberi kemaafan, demikian juga berupaya untuk memperoleh kemaafan itu sendiri, sehingga subtansi kehidupan yang dilakoni itu tetap dalam wacana yang mencerminkan entitas persaudaraan dalam berIslam. Wahai segenap insani yang sedang menjalani proses kepribadian menunju entitas manusia berTaqwa via serangkaian ibadah Ramadhan, jangan abaikan bahwa memaafkan itu bijak dan perlu.


Hari Anak Yatim se-Dunia Islam

Posted On 8/02/2014 by gema baiturrahman 0 coment

Pemerintah dan masyarakat Banda Aceh bersama Aliansi OKI mendeklarasikan 15 Ramadhan sebagai sebagai Hari Anak Yatim di Banda Aceh. Hal ini sesuai dengan Resolusi OKI Organisasi Kerjasama Islam), yang dikeluarkan pada Pertemuan Tingkat Mentri Luar Negeri OKI ke-40 di Conakry, ibukota Republik Guenia, 9-11 Desember 2013, yang menyerukan agar dunia Islam menjandikan setiap 15 Ramadhan sebagai Hari Anak Yatim se-Dunia Islam.

Hari Anak Yatim se-Dunia Islam diperingati untuk terus mengingatkan dan menjaga kesadaran kita semua tentang masalah-masalah yang dialami oleh anak yatim di seluruh dunia, khususnya dunia Islam. Peringatan ini, penting untuk menggalang dukungan semua pihak terhadap berbagai program bantuan untuk anak yatim. Dukungan semua pihak diperlukan agar program-program bantuan untuk anak yatim dapat berjalan dengan baik, karena semua pihak ikut memobilisasi sumber daya yang ada.

Secara khusus, kita patut berterima kasih kepada OKI yang peduli terhadap anak yatim di seluruh dunia. Khusus di Aceh, OKI dan Pemerintah Indonesia bersepakat membentuk  Aliansi OKI untuk Anak Yatim Penyintas Tsunami 2004  dan telah mulai beroperasi di Aceh sejak 1 Mei 2006.

Beberapa waktu lalu, 20 Juni hingga 3 Juli, saya bersama Ketua DPRK, Sekretaris Daerah dan 10 anak yatim diundang ke Jeddah oleh Islamic Development Bank (Bank Pembangunan Islam) dalam rangka Pertemuan Tahunan Kelompok IDB ke-39 dan Peringatan Hari Yatim se-Dunia Islam.

Saya bersyukur dan terharu melihat begitu besarnya komitmen para pemimpin kita di dunia Islam untuk memastikan kesejahteraan para anak yatim ini. Saya berkomitmen untuk terus membantu anak-anak yatim melalui instansi terkait sesuai dengan anggaran yang ada dan diamanahkan kepada saya sebagai walikota.

Namun, partisipasi masyarakat diharapkan lebih besar lagi untuk ikut menyantuni anak yatim di gampong-gampong, karena menyantuni anak yatim adalah kewajiban kita semua sebagai muslim. Santunan anak yatim dapat diberikan secara langsung atau lewat lembaga-lembaga santunan anak yatim, misalnya dengan membayar zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) lewat Baitul Mal.

Melalui peringatan Hari Anak Yatim se-Dunia Islam pada 15 Ramadhan, kita perteguh komitmen untuk berbuat sekuat tenaga, sedaya-upaya yang kita miliki untuk memastikan kesejahteraan para anak yatim di sekitar kita. Mereka adalah anak-anak kita, anak-anak bangsa yang menjadi tanggung jawab kita setelah mereka ditinggalkan oleh orang tua kandung mereka.

Saya  kira, peringatan ini dapat memacu kita untuk berlomba-lomba menyantuni anak yatim, secara pribadi maupun lewat lembaga-lembaga amal. Wallahu a’lam bishshawab Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE


POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2014 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id