Thursday, April 8, 2010

Dakwah dengan Secangkir Kopi


KOTA Seribu Warung Kopi. Julukan itu layak dilakapkan untuk daerah-daerah di Aceh. Sepanjang jalan hingga persimpangan jalan kecil, berderet warung kopi, kedai kopi atau cafe. Lebih gampang menemukan kedai kopi daripada perpustakaan yang merupakan gudang ilmu pengetahuan. Ini fakta di Serambi Mekkah. Warga di luar Aceh menyatakan belum afdhal ke Serambi Mekkah sebelum ke warung kopi. Tidak berlebihan, warung kopi di Tanah Rencong sangat fenomenal dan jarang djumpai di daerah lain.


Ke kedai kopi tidak sekedar untuk meneguk secangkir kopi, teh atau minuman lain plus melahap makanan ringan. Ada unsur politik atau aspek sosial. Duduk santai di warung kopi sebagai bentuk pernyataan diri bahwa mereka memiliki kelas sosial tersendiri. Setiap orang punya kedai kopi langganan plus kursi yang disenangi selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Minum kopi atau teh di warung kopi menjadi candu. Padahal, hal itu bisa dilakukan di rumah. Aroma kedai kopi tidak dijumpai di rumah yang menyebabkan kaum pria tetap ke kedai kopi lagi padahal sudah minum kopi di rumah.

Fenomena warung kopi di Aceh terus beranjak. Pada awal tahun 1980-an, pengusaha warung kopi memutar video sebagai trik menarik konsumen. Kadangkala, terselip juga video porno yang belum layak ditonton oleh kalangan anak-anak atau remaja yang belum menikah. Usai budaya putar video, mereka memasang parabola untuk menangkap siaran dari luar negeri, televisi kabel atau berlangganan koran.

Memasuki awal tahun 2009, giliran kedai kopi memasang jaringan internet gratis. Wal hasil, masyarakat terutama anak muda berbondong-bondong ke sana untuk mengakses internet dengan bayaran secangkir kopi. Sekali lagi, kedai kopi bisa menjadi wadah bertemu (silaturrahmi), berdiskusi, menguras ilmu pengetahuan dengan bertemu berbagai kalangan. Tak diragukan lagi, kedai kopi bisa menjadi ajang menebarkan fitnah jika tidak disikapi dengan baik. Sebutan politik warung kopi pas digalungkan kepada politikus amatiran yang menyeruput perlahan-lahan kopi yang panas. Kadangkala infomasi terbaru dan shahih merajalela di sana.


Bagaimana posisi dakwah Islam di warung kopi? Dakwah dapat dilakukan di mana saja selama 24 jam dengan cara yang bijak. Penduduk yang diajak pun tidak merasa tersinggung atau merasa dirinya tidak tahu apa-apa tentang Islam. Harus kita akui, mayoritas warung kopi di Aceh menyediakan mushalla. Jika pun tidak, kemungkinan besar lokasi warung kopi berdekatan dengan masjid atau meunasah. Artinya, secara teknik, pengusaha kedai kopi telah menyediakan tempat kepada pengunjung untuk menunaikan ibadah pada waktunya.

Hal-hal lain yang bisa dilkukan oleh pemilik kedai kopi yakni memberikan nuansa syariat Islam. Penempatan kaligrafi di dinding atau mengutip hadits-hadits yang ditulis di meja diharapkan bisa memutuskan poh cakra (canda) yang mengarah pada unsur-unsur terpenuhi fitnah. Kita paham, Sabda Rasulullah bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tidak salah, jika pengelola warung kopi menyediakan bacaan gratis bermutu sebagai teman minum kopi. Beberapa café di Aceh membuka pustaka mini yang bisa dinikmati selama ngopi.

Pada dimensi lain, pelaku peminum kopi dapat mengarahkan pertemuan pada pembicaraan yang bisa meningkatkan wawasan. Warung kopi adalah tempat yang bisa berada di mana saja. Hanya saja, suasana hiruk pikuk atau hilik mudik yang tidak ditemukan di rumah atau di tempat lain. Kondisi seperti itulah yang juga dinikmati oleh pencandu kopi. Dengan kondisi demikian, dakwah dalam arti luas dapat dilakukan dengan secangkir kopi. Belajar kejujuran dari warung kopi. Memberitahukan kue yang dilahap atau kopi yang diminum kepada kasir atau pelayan. Jadikan warung kopi sebagai lahan dakwah yang efektif. Bukan sinis kepada mereka. Rangkul pengemar warung kopi sebagai bagian dari jejaringan dakwah. Murizal Hamzah

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

1 coment:

Dedi S. ed Daudy said...

iya,,, tapi yang sangat kita sayangkan orang bisa lupa waktu bila sudah berada di warung kupi,,,
kita bisa melihat, kebanyakan warung kupi dipenuhi pada sore hari hingga isya.. (terlalu general bila harus dikatakan mreka lupa tuk munanaikan shalat maghrib`a...)..
lebih-lebih skarang sudh nge-trend budaya `poker` dkalangan anak2 muda...

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2014 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id