Saturday, July 24, 2010

Membangun Kehidupan Muslim Harmonis


Khatib : Drs H. Azhari Basar


Perjalanan panjang Islam di Aceh dimulai ketika Kerajaan Islam Pase meletakkan kekuasaannya di pantai utara dan timur Aceh. Kejayaan Islam Pase ketika itu tidak hanya diakui oleh ahli-ahli sejarah nasional tetapi juga disaksikan oleh pelawat dan pelaut yang sangat tesohor, Marcopolo, dari Venesia, Eropa Selatan.

Dalam catatannya Marcopolo menyebutkan, rakyat di negeri Pase sangat makmur dan sejahtera. Raja Kerajaan Pase yang bergelar Sultan Malikussaleh sangat dicintai oleh rakyatnya. Kehidupan ekonomi sangat maju. Pada saat itu Kerajaan Islam Pase telah mengeluarkan uang dalam bentuk koin emas, perak dan suasa yang tercatat dalam sejarah sebagai koin yang pertama dikenal di seantero nusantara ini.

Dalam catatan lain disebutkan, setiap hari Jumat Sultan Malikussaleh bersama pengiringnya berkeliling gampong secara bergilir untuk melihat kehidupan rakyatnya. Bila ada rakyat yang menderita, sultan segera memerintahkan agar hal itu diurus oleh kerajaan. Setelah selesai memeriksa keadaan wilayahnya, Sultan melaksanakan shalat Jumat bersama rakyatnya di mesjid kerajaan Pase.

Bercermin pada kebesaran kerajaan Aceh tersebut, kita sangat mendambakan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Aceh, mendambakan keadilan, merindukan pimpinan pemerintahan yang peduli kepada rakyatnya, yang bersedia melaksanakan shalat Jumat bersama-sama rakyat, yang setelah selesai shalat, bersalaman dan bersilaturrahmi dengan rakyat dan mendengarkan pengaduan rakyat. Dengan cara-cara begitulah rakyat dan pemerintah dapat hidup dalam suasana harmonis.


Masyarakat madani
Kehidupan masyarakat yang harmonis, yang saling berkasih sayang antara rakyat dan pemimpinnya, sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW ketika beliau membangun pemerintahan Islam yang berpusat di Madinah. Disanalah Rasul membangun masyarakat Islam yang sejahtera, kuat dan damai, yang disebut dengan masyarakat madani (civil society), yaitu masyarakat yang berperadaban.

Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menyebutkan bahwa masyarakat madani yang dibentuk Rasulullah SAW adalah masyarakat yang kuat, tolerans, taat dan harmonis, bercirikan siyasah ‘aqliyah (intelektual), syar’iyah (religious) dan ruhiyah (moral/spiritual). Masyarakat seperti inilah yang membentuk umat yang baik (khairu ummah), sebagaimana firman Allah dalam surat Ali ‘Imran : 110 : “Kamu adalah umat yang terbaik yang ditampilkan kepada manusia, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar dan beriman kepada Allah.”

Ummah yang dicita-citakan ialah umat yang berdimensi trans-rasial, yaitu tidak terbatas pada ras tertentu. Selama ia mengucap dua kalimah syahadah, maka ia adalah saudara seiman yang harus saling membela dan saling menyayangi, apakah dia orang Batak, Jawa, Papua, Cina, Jepang, Jerman dll. Merajut hubungan yang harmonis dalam dimensi trans-rasial dan trans-komunal adalah salah satu ciri dari agama Islam yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia diamanapun dia berada. Allah SWT berfirman dalam surat Saba’ ayat 28: Tidak Kami utus engkau hai Muhammad kecuali bagi seluruh manusia.”

Dalam surat Al-Anbiya’ ayat 92, Allah telah menegaskan bahwa umat Islam itu adalah ummatan wahidah, yaitu umat yang satu tidak terpecah-pecah, karena umat yang berada dalam perpecahan itu tidak akan pernah menjadi kuat.

Kelemahan kita saat ini karena kita terpecah belah, tidak bersatu. Mengapa Negara Israel yang kecil dan berpenduduk sedikit mampu mengobrak abrik Negara-negara Islam di sekitarnya yang jauh lebih besar dan jauh lebih banyak penduduknya? Jawabannya hanya satu, yaitu karena negara-negara Islam tidak pernah kompak dan tidak bersatu. Yadullahi fauqal jama’ah : Bantuan Allah hanya dapat kita peroleh bila kita berada dalam satu jamaah, dalam satu kesatuan umat yang harmonis.


Kita umat Islam di Aceh haruslah menjaga dengan sungguh-sungguh agar anak kita sebagai calon pemimpin masa depan, tidak terlibat pada kehidupan yang negatif yang dapat merusak masa depan mereka. Bimbinglah anak-anak kita agar mereka tidak kecanduan rokok dalam usia sekolah, janganlah mereka terlibat dalam kejahatan narkotika, ganja dan sabu-sabu. Sebab, bila mereka telah terlibat dengan narkoba, maka akan hancurlah masa depan mereka, akan sia-sialah hidup mereka dan akan menderitalah kita sebagai orang tuanya. Orang tuanya akan sedih dan menyesal sepanjang hidupnya karena anaknya menjadi orang yang tidak berguna.

Saat ini hati kita menjerit melihat masih ada anak-anak kita yang terperangkap dalam kejahatan pornografi. Karena itu marilah kita perkuat ketahanan masyarakat kita dengan iman dan etika Islam atau akhlaqul karimah. Berilah bekal anak-anak kita dengan ilmu agama disamping berbagai jenis ilmu pengetahuan lainnya. Niscaya masa depan kehidupan anak-anak kita serta masa depan masyarakat kita akan berada dalam suasana yang sejuk, damai, harmonis dan bahagia dalam negeri yang indah dibawah keampunan Allah Yang Maha Pengasih, Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur.
Khatib, berdomisi di Campus Kopelma Darussalam B.Aceh

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id