GBO 1

GBO 1

Friday, September 17, 2010

Mensyukuri Nikmat Kemedekaan


Khatib : Dr H. Agusni Yahya, MA


Allah berfirman: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatKu, maka pasti azabKu sangat besar.”

Saat ini kita masih dalam suasana Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 65. Oleh karena itu, judul khutbah hari ini adalah “Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan”.

Kemerdekaan merupakan rahmat dan nikmat Allah yang sangat besar. Para pejuang dan pendiri Negara Indonesia 65 tahun yang lalu menyadari hal ini. Kesadaran ini bukan sekedar lip service mereka, akan tetapi rasa syukur ini mereka dokumentasikan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah atas kemerdekaan yang dicapai bangsa Indonesia. Sebab kalau bukan karena rahmat dan pertolongan Allah, bangsa Indonesia tidak mampu memperoleh kemerdekaan yang begitu rupa mengingat kaum penjajah bumi Nusantara pada masa itu masih saja ambisius melanjutkan penjajahan atas rakyat Indonesia. Mereka selalu ingin memperbudak bangsa Indonesia, menguras segala kekayaan bumi Nusantara untuk diangkut ke negara mereka bagi kemajuan dan kemakmuran bangsanya sendiri. Padahal penjajahan dan perbudakan atas sesama manusia bertentangan dengan ajaran Islam dan melanggar hak-hak azasi manusia.

Para pendahulu kita telah berjuang selama berabad-abad untuk memperoleh kemerdekaan dari tangan kaum penjajah. Para pemimpin dan ulama mengerahkan kekuatan rakyat, murid dan santri untuk mengusir kaum penjajah dari bumi Nusantara. Mereka telah mengorbankan semua yang mereka miliki; harta, tenaga dan nyawa. Mereka menumbuhkan kesadaran kepada warganya untuk berani melawan dan mengusir kaum penjajah dari bumi pertiwi. Guru di sekolah, kiai di pesantren membangun jiwa murid dan santrinya dengan semangat jihad melalui cerita-cerita kepahlawanan, ayat-ayat tentang jihad, dalam masyarakat Aceh membacakan hikayat Prang Sabi karya Tgk. Syik Pante Kulu. Para politikus dan wartawan berjuang dengan membangun partai dan media cetak walaupun selalu diawasi oleh pemerintah kolonial.

Para pahlawan yang pernah tampil di medan perjuangan adalah para tokoh Islam yang sebagiannya juga ulama. Seperti Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Pattimura, Teuku Umar, Teuku Chik Di Tiro, Teuku Panglima Polem, Cut Mutia, Cut Nyak Dhien, Sultan Hasanuddin dan lain-lain. Mereka tampil berjuang melawan kaum penjajah yang kuffar terhadap penduduk negeri jajahan yang Muslim. Maka semangat juang mereka adalah jihad fi sabilllah. Oleh karena itu, perjuangan mempertahankan agama dan tanah air adalah kewajiban agama Islam dan karena itu pula jika mereka gugur dalam membela agama dan tanah air dipandang sebagai mati syahid. Maka dapatlah dimaklumi mengapa para ulama menyimpulkan bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.

Perjuangan dan perlawanan rakyat pada awalnya masih berskala lokal, masing-masing daerah berjuang sendiri-sendiri, sehingga kurang efektif untuk menghadapi kekuatan persenjataan canggih kaum penjajah. Namun setelah perjuangan rakyat melawan kolonial meningkat, bersatu dan berskala nasional, maka berkat rahmat Allah, cita-cita dan semangat kemerdekaan yang dipupuk oleh para pemimpin dan ulama akhirnya diperoleh pada tanggal 17 Agustus 1945. Ini ditandai dengan pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama wakil bangsa Indonesia.

Memproklamasikan kemerdekaan belumlah menyelesaikan perjuangan. Para pemimpin dan rakyat Indonesia masih harus berjuang keras dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga menghadapi bangsa asing yang kebakaran jenggot mendengar negeri jajahan mereka menyatakan kemerdekaan. Maka para pemimpin dan rakyat kembali harus menyusun kekuatan bersenjata dan kekuatan logistik serta kemampuan diplomasi untuk mendapat dukungan negara lain. Rakyat Aceh turut menyumbang untuk membeli pesawat bagi kepentingan diplomasi dan pengangkut logistik bagi perjuangan kemerdekaan RI. Perjuangan dan pengorbanan para pemimpin dan rakyat pasca proklamasi akhirnya membuahkan hasil karena negara-negara dunia telah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Para pejuang kemerdekaan RI kini telah tiada. Mereka adalah para prajurit bangsa yang jasa-jasa mereka tidak mampu dihargai dengan harta benda. Maka salah satu bentuk rasa syukur kita kepada para pahlawan kemerdekaan negeri kita adalah mendoakan kepada Allah agar mereka diampuni dosa-dosanya, diterima segala amal salehnya dan dimasukkan ke dalam syurga sebagai golongan syuhada dan shalihin. Kita juga perlu selalu mengenang jasa-jasa dan pengorbanan mereka kepada warga bangsanya agar kita bisa mengikuti jejak langkah mereka dalam hal berkorban dan bertanggung jawab moral bagi kepentingan bangsa dan tanah air Republik Indonesia. Kita wajib berterima kasih dan menteladani orang-orang baik yang telah berjasa kepada kita. Rasul bersabda: Barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia, ia tidak mensyukuri Allah [HR. Ahmad, Tirmizi dan Dhiya’, berasal dari sahabat Abu Sa‘id].

Kemerdekaan sebagai rahmat Allah, berkonsekuensi mengisi kemerdekaan ini dengan segala perbuatan yang diridhai oleh Allah. Dengan cara demikian, nikmat Allah akan ditambah kepada bangsa Indonesia. Sebaliknya, jika kemerdekaan diisi dengan kekufuran, kemungkaran, kemaksiatan dan kezaliman, maka azab Allah yang sangat berat berupa musibah dalam berbagai bentuk akan muncul dan bisa menimpa semua kita.

Inilah di antara hikmah pentingnya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan tanah air kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang selalu bersyukur dan mendapat ridha Ilahi dan semoga negeri dan segenap penduduknya selalu aman, damai, adil dan sejahtera menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabun ghafur.

Khatib, PD I Fak. Ushuluddin IAIN Ar-Raniry B. Aceh ;
disampaikan pada jumat 20 Agustus 2010

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2014 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074 - Email: gema_btr@yahoo.co.id