Friday, November 26, 2010

Pahlawan Sejati


MIHRAB

Oleh Murizal Hamzah

Indonesia menetapkan setiap tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Momentum itu merujuk pada pertempuran yang heroik di Surabaya Jawa Timur. Teriakan Allah Akbar oleh Bung Tomo membakar pemuda dan laskar menghadapi Sekutu Inggris. Tak pelak, banyak pejuang Indonesia yang gugur sebagai syuhada atau luka parah. Mengenang para pahlawan yang meninggal tanpa tanda jasa dan tanpa kuburan, maka ditetapkan 10 November sebagai hari untuk mengenang para pahlawan di seluruh Indonesia.

Hari Pahlawan patut digelar untuk mengingat jasa-jasa mereka yang dengan ikhlas mengusir imperealis Belanda, Jepang hingga Inggris. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Demikian wasiat deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro dalam berbagai karya tulisnya.


Merucuk lebih pada kedaerahan, kiprah pahlawan ada di mana-mana. Siapa duga para ulama di Aceh yang pertama menyerukan rakyat mendukung Indonesia dari serbuan penjajah. Padahal, usia proklamasi negara ini baru seumur jagung yakni sekitar dua bulan. Berdasarkan bukti tertulis dari berbagai media dan buku disebutkan terdapat empat ulama besar Aceh mengeluarkan maklumat untuk berdiri di belakang Sukarno bela Indonesia. Hal ini disampaikan dalam seruan tertulis yang ditandatangani oleh Teungku Haji Hasan Krueng Kale, Teungku Daud Beureuéh, Teungku Haji Jakfar Sidik Lamjabat dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.


Kesepakatan berharga ini disetujui oleh Residen Aceh Teuku Nyak Arief dan Ketua Komite Nasional daerah Aceh Tuanku Mahmud pada Senin, 15 Oktober 1945. Inti Maklumat Ulama itu yaitu seruan bersatu-padu di bawah kepemimpinan Soekarno, perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah perjuangan suci yang disebut dengan “Perang Sabil” (perang di jalan Allah).


Dalam pergerakan Aceh, maka peran ulama selalu menghiasi pentas perubahan. Karena itu, persepsi yang disebut pahlawan hanya yang berjuang dengan mengangkat bedil atau memimpin perjuangan di medan laga tidaklah cukup. Pahlawan itu tidak mesti yang dimakamkan di taman makan pahlawan atau yang menerima tanda jasa. Lebih banyak lagi sosok pahlawan yang tidak menerima keduanya bahkan uang veteran karena dengan berbagai dalil dan keyakinan yang diyakini benar.



Masih adakah pahlawan pada masa kini? Ya tentu ada. Sosok pahlawan hadir dalam berbagai bidang dan menyemai dalam setiap sanubari manusia. Mengenang hari pahlawan dengan mengikuti obsesi-obsesinya yang belum tuntas seperti memakmurkan masyarakat, menyediakan pengobatan dan pendidikan gratis dan sebagainya. Pahlawan sejati tidak menuntut kalau dirinya sudah berjuang pada masa perjuangan, revolusi hingga konflik. Semua dilakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Itulah pahlawan sejati tanpa perlu menepuk dada.[murizalhamzah@gmail.com]

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id