Friday, June 17, 2011

Masjid Bersejarah Kerajaan Kutai


Perjalanan kali ini ke Kabupaten Kutai Kartanegara memberikan nuansa baru bagi saya. Inilah kunjungan pertama kali ke pulau Kalimantan Timur yang terkenal dengan hasil bumi batubara, sungai Mahakam yang lebar yang di tengahnya terdapat Pulau Kumala. Di tempat ini berkumpul sebanyak 30.000 petani-nelayan dalam rangka Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani se Indonesia yang akan dibuka Wapres Budiono besok, Sabtu (18/6). Peserta dari Aceh, konon berjumlah sekitar 800 orang, yang semula tercatat 2.350 orang. Namun karena alasan teknis, maka quota yang diberikan tersebut tidak tercapai.

Menurut Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Aceh Drs H. Zakaria Affan, semula jumlah peserta Penas XIII asal Aceh 2.350 orang, namun ternyata ada kendala dalam memberangkatkan peserta dalam waktu bersamaan akibat terbatasnya layanan penerbangan. “Selain itu, harga tiket pesawat yang melambung tinggi saat pemesanan menyebabkan banyak calon peserta yang urung berangkat,” imbuh Zakaria.

Para peserta asal Aceh ditempatkan di rumah-rumah penduduk Kelurahan Lao Ipuh Kecamatan Tenggarong dekat sungai Mahakam. Inilah sebenarnya manfaat lain dari Penas, yakni saling bersilaturrahmi dan berbagi pengalaman. Saya melihat masyarakat Kutai senang menerima dan melayani tamu, sama halnya dengan masyarakat Aceh. Mereka merelakan rumah-rumahnya ditempati kontingen Aceh selama seminggu.

Sejarah Kerajaan Kutai
Berdasarkan sejarah Indonesia kuno dalam situs resmi Kesultanan Kutai Kartanegara disebutkan bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia di bawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura.

Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).

Tercatat ajaran Islam dikenal di wilayah ini berkat jasa dua ulama besar yaitu Syekh Abdul Qadir Khatib Tunggal yang bergelar Datok Ri Bandang dan Datok Ri Tiro yang dikenal dengan gelar Tuanku Tunggang Parangan. Keduanya datang ke Jaitan Layar, ibu kota Kutai Kartanegara saat itu, sekarang Kutai Lama, setelah mengislamkan raja dan rakyat Kerajaan Goa-Tallo. Tak beberapa lama, sekitar akhir 1605, raja dan rakyat Kutai menjadi pemeluk agama Islam.

Strategi dakwah dua ulama besar ini memang jitu. Yakni mendekati raja atau penguasa setempat terlebih dulu untuk menyakini kebenaran atau kebaikan agama baru. Ketika Raja Mahkota (1565-1605) memeluk agama Islam, serentak para pembesar kerajaan dan rakyat mengikuti jejak raja. Islam menjadi agama negara dan nafas sistem pemerintahan, dan sejak itu mulailah era baru pengembangan Islam.

Masjid Jamik Adji Amir Hasanoeddin merupakan masjid tertua milik Kesultanan Kutai yang dibangun pada tahun 1874 atau saat ini berusia 137 tahun. Selain sebagai tempatr ibadah, masjid ini difungsikan sebagai tempat kegiatan keagamaan terutama memperingati maulid Rasulullah. Masjid Jamik Adji Amir Hasanoeddin memiliki peran yang cukup besar bagi masyarakat Tenggarong dan Kutai pada umumnya, karena mengandung nilai historis. Bahkan masjid ini ditetapkan sebagai salah satu masjid bersejarah di Indonesia.Basri A.Bakar

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id