Friday, September 9, 2011

Hidup Damai Menurut Ajaran Islam


Prof. Dr. Tgk. H. Yusny Saby


Baru saja kita selesaikan puasa Ramadhan 1432 H. yang dengan puasa itu seharusnya kita akan sudah menjadi manusia taqwa, yaitu imannya teguh, ibadatnya tertib-teratur, serta peduli lingkungan dalam arti yang lengkap. Lingkungan manusia dalam arti kedermawanan kita dalam segala hal, lingkungan hewan dalam arti penyayang, dan lingkungan hidup, eko sistim: dengan menjaga kelestarian bumi Allah ini untuk kebaikan hidup kita, hambanya.

Inilah ciri orang yang taqwa, yaitu yang imannya kepada yang ghaib sangat kuat, yang ‘ibadatnya benar, yang peduli pada manusia, dan alam semesta. Kalau itu terjadi itu artinya kita sudah sudah menjadi orang yang bertaqwa yang sebenarnya. Orang yang taqwa ialah orang yang hidupnya aman, damai, tentram, dengan diri dan lingkungannya, hidupnya bermanfa‘at dan produktif.

Pada kesempatan ini marilah kita bicarakan sekelumit tentang damai dan hidup damai yang mengacu kepada ajaran Islam, agama yang menjadi keyakinan dan pegangan hidup kita dan sangat kita cintai ini. Kita sangat bersyukur dan berbahagia, bahwa kita dalam enam tahun terakhir ini berada dalam suasana hidup yang aman, damai, dan sedang kita perjuangkan untuk segera sejahtera. Namun kedamaian, keamanan dan kesejahteraan itu tidak akan datang begitu saja. Ianya harus diusahakan untuk meraihnya, dan ketika ia sudah berada bersama kita, maka wajib kita jaga, pelihara, sesuai dengan aturan dan petunjuk.

Pada kesempatan yang bersahaja ini kita hanya akan mengungkapkan sebahagian dari prinsip dan ajaran Islam yang telah dimulai oleh Nabi Muhammad SAW 15 abad yang lalu tentang bagaimana caranya kita dapat terus hidup damai sesuai dengan tuntunan agama.

Kita mengetahui bahwa pokok utama ajaran Islam adalah DAMAI, perdamaian, sejahtera, salam. Dengan demikian maka logikanya adalah bahwa siapa saja yang mengaku dirinya pemeluk ISLAM, haruslah ia menjadi pribadi yang damai. Kalau tidak dapat berprilaku damai berarti ada yang tidak tepat dalam pemahaman atau pengamalan agamanya. Memang, dimana-mana ada saja (walau segelintir orang yang mengaku dirinya Islam) yang melakukan kejahatan, kekacauan, kerusuhan, yang merusak, merugikan (orang lain, masyarakat, atau negara seperti pungli, korupsi, kolusi, sogok, kronisme, nepotisme dan sejenisnya. Semua prilaku buruk ini adalah sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang kita yakini. Prilaku oknum-oknum tersebut telah merusak kehidupan damai yang kita semua citakan dan perjuangkan sejak dahulu kala.

Melihat kenyataan tersebut marilah kita berusaha memahami, meyakini, memperjuangkan, dan selanjutnya mengamalkan ajaran mulia tersebut demi untuk kemaslahatan hidup kita terutama di dunia ini, yang juga akan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat nantinya. Ajaran tersebut bertumpu pada IMAN DAN ‘AMAL. Benar-benar yakin bahwa inti ajaran Islam adalah pembawa damai, dan seraya mengamalkannya dengan sepenuh hati oleh pemeluknya.

Itulah beberapa hal sebagai inti ajaran Islam yang menganjurkan kita untuk memedomaninya agar kita dapat hidup damai sesuai dengan ajaran agama kita, agama Islam. Ihdina as-shirata al-mustaqim. Dari apa yang telah diuraikan tadi dapatlah diambil natijah nya bahwa inti ajaran Islam yang dipelopori oleh Nabi Muhammad saw adalah untuk berbuat dan menciptakan aman, damai, selamat, sejahtera, yang perlu direalisasikan baik oleh pribadi, dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun dengan komunitas dunia. Kita semua dimintakan untuk yang paling pokok adalah me-yakini-nya.

Dari keyakinan tersebut akan membuahkan sikap, yang dapat disimpulkan dalam aksi seperti mematuhi aturan, yang tertulis, yang tidak tertulis (adat yang ma‘ruf), saling menghormati, berlomba dalam berbuat kebaikan, sadar sebagai “pewaris Nabi” untuk menunjukkan uswah hasanah, menghargai perbedaan, maling memberi ma‘af dan bertanggung jawab.

Untuk itu para pemimpin, umara’, ‘ulama’, dalam tingkatan manapun, di keluarga, masyarakat, pemerintahan, adalah adalah pewaris Nabi. Beliau semua adalah model panutan masyarakat dan bangsa masa kini. Ketidaksediaan atau ketidakmampuan mereka-mereka itu bersikap sebagai teladan akan membuahkan konflik, dalam berbagai kalangan, baik di rumah tangga, ataupun dalam negara.

Aceh adalah daerah yang telah mengaku diri sebagai pemangku syari‘at Islam, setiap tindak tanduk kita akan menjadi perhatian orang lain bahkan dunia. Ketika dipahami baik, maka alhmadulillah. Namun ketika dipahami sebagai yang tidak membuahkan damai, akan menjadi cemoohan seluruh dunia

Seraya juga kita berdo‘a agar para umara’ dan ‘ulama’ kita diberi kesehatan dan kekuatan agar mampu menjadi teladan dan pelopor dalam mengemban amanah Allah dan tuntutan ummat ini. Amien Ya Rabbal’alamin.

Khatib, mantan Rektor IAIN Ar-Raniry

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id