Monday, September 5, 2011

Hikmah Puasa Sunat Syawal


Drs. Tgk. H. RamlyYusuf,MA
Hadits yang berasal dari Abu Ayyub Rasulullah SAW bersabda: Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawwal adalah sama dengan berpuasa setahun penuh. (Hadits Riwayat Muslim).

Hadits di atas Rasulullah SAW mengajarkan kita bahwa pahala orang yang berpuasa sunat enam hari di bulan Syawwal sama nilainya dengan berpuasa setahun penuh. Hal ini karena Allah membalas satu amalan baik dengan sepuluh kali lipat. Jadi 30 hari di bulan Ramadhan menjadi 300 hari di tambah dengan enam hari di bulan Syawwal menjadi 60 hari lamanya sehingga semuanya menjadi 360 hari (satu tahun). Hitungan ini sesuai firman Allah di dalam surat Al-An’am ayat 160: Siapa saja yang berbuat satu amalan baik maka diberikan balasannya sepuluh kali lipat.Dan siapa yang berbuat satu kejahatan maka tidak dibalas kecuali sejumlah yang dilakukannya dan mereka tidak dirugikan.

Orang yang berpuasa sunat setelah puasa Ramadhan termasuk puasa sunat enam hari di bulan Syawwal memiliki makna yang sangat mendalam, diantaranya, pertama puasa sunat Syawwal sama seperti shalat-shalat sunat sebelum dan sesudah shalat wajib. Yaitu dapat menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan shalat atau puasa wajib. Dengan kata lain puasa atau shalat wajib dapat ditutupi dengan amalan sunat di hari kiamat.

Kedua mengerjakan puasa sunat setelah puasa wajib sebagai pertanda diterimanya puasa wajib (Ramadhan). Tanda seseorang diterima amal baiknya Allah menggerakkan hatinya untuk berbuat amal shalih sesudahnya. Siapa yang berbuat satu amalan baik kemudian setelah itu dibarengi dengan amalan baik. Itu sebagai pertanda diterima amalan shalihnya yang pertama. Sebaliknya siapa saja yang berbuat amal shalih kemudian diiringinya dengan amalan jahat hal itu sebegai pertanda ditolaknya amalan baiknya sebelumnya.

Ketiga, orang yang berpuasa Ramadhan memperoleh pengampunan dosa yang dikerjakan di masa-masa yang lalu. Jadi berpuasa setelah Ramadhan adalah wujud dari syukur terhadap nikmat pengampunan tersebut. Tidak ada nikmat yang lebih besar selain pengampunan dosa. Nikmat puasa, nikmat melakukannya dengan penuh iman serta nikmat pengampunan dosa patut disyukuri dengan berpuasa sunat Syawwal setelah puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunat lainnya. Membalas nikmat Allah dengan kemungkaran setelahnya adalah sama dengan menukar nikmat dengan kemaksiatan. Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian ia dengan sengaja mengulangi perbuatan maksiat setelah selesai ibadah Ramadhan maka puasanya itu ditolak Allah dan tertutup pintu rahmat kepadanya. Ia tidak ubahnya seperti orang yang membangun kemudian meruntuhkan.

Selain itu, keempat berpuasa enam hari sunat Syawwal sebagai indikasi seseorang telah terpikat hatinya dengan puasa Ramadhan oleh karena itu ia sambung dengan sunat Syawwal. Berapa banyak orang yang merasa berat berpuasa di puasa Ramadhan sehingga ia senang dengan berakhirnya bulan Ramadhan.

Terakhir, orang yang diterima puasanya adalah orang yang bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun, tidak memilih-milih bulan. Ulama salaf Bisyr pernah berkata: sejahat-jahat orang adalah orang yang mengenal hak Allah (beribadah) hanya di bulan Ramadhan saja,namun setelah itu ia berhenti ibadah.

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id