Tuesday, February 28, 2012

Bagaimana Cara Gajah Berpikir ?


Masyarakat yang melintasi tempat pelatihan gajah di Saree Aceh Besar bisa menyaksikan gajah yang dirantai, diikat dengan tali ke pohon atau tiang. Gajah yang termasuk binatang darat terbesar dan terkuat tidak berdaya diri untuk merdeka apalagi protes kepada pawang. Padahal, jika gajah mau melakukan secara rutin menabrak pohon atau tiang, binatang belalai itu bisa kembali ke habitatnya di hutan Seulawah. Namun hal ini tidak dilakukan. Mengapa?

Pertama, gajah sudah berada di zona nyaman. Makan diantar secara terjadwal oleh pawang. Gajah tidak perlu lagi bersusah payah mencari daun kelapa atau makanan lain yang disukainya. Gajah itu tidak perlu lagi berjuang untuk hidup. Semua fasilitas sudah dijamu. Gajah jadi malas berpikir karena semua fasilitas yang dibutuhkan sudah ada. Dokter hewan pun siaga mengobatinya. Jadi mau apa lagi?

Alasan kedua karena sejak kecil gajah diikat dengan tali untuk menahan dia kabur. Hentakan kaki gajah tidak mampu memutuskan tali, rantai atau merobohkan pohon atau mematahkan tiang.

Pada akhirnya, gajah-gajah percaya bahwa tali yang sejak kecil diikat di kaki depannya hingga dewasa tidak mampu dilumatkan. Padahal ketika gajah masih anak-anak sudah berusaha mendobrak belenggu itu. Apa daya, gajah yang bocah itu gagal memutuskan rantai yang sangat kokoh untuk kemampuan gajah yang masih kecil.

Pikiran gajah yang sejak kecil menyakini gagal memutuskan borgol di kakinya terbawa hingga dewasa. Hasilnya, walaupun badan gajah besar dengan kekuatan yang dahsyat, gajah tetap tidak kabur dari pengawasan pawang.

Gajah tidak bisa kabur dari rantai di kakinya karena gajah percaya tidak bisa. Berpikir tidak bisa. Akhirnya gajah jadi anak manis mengikuti semua perintah pawang. Gajah terjebak pada sifat dogmatis apa yang diyakini selama ini.

Bukan berarti gajah tidak bisa berontak. Di Phuket Thailand, saya mendengar cerita gajah pariwisata dengan operasi kerja di pantai berhasil melepaskan ikatan rantai menjelang tsunami 26 Desember 2004. Allah memberikan kemampuan pada gajah untuk merasakan getaran melalui syaraf-syaraf di ujung kakinya.

Karena kondisinya terancam, gajah berpikir harus menyelamatkan dirinya dengan menghentak kakinya pada rantai. Gajah yang dalam kesulitan mampu menghilangkan pemikiran selama ini bahwa gajah tidak mampu memutuskan tali atau rantai. Di Aceh pun kita dengar warga yang sanggup memanjatkan pohon ketika tsunami. Situasi terpaksa mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan ketika dalam situasi normal.

Begitu juga manusia yang sudah duluan pasrah dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Pemahaman pasrah bisa dipahami jika hamba-Nya sudah berikhtiar. Keyakinan manusia bahwa garis hidupnya sudah berakhir pada halte tertentu berlawanan dengan Islam yang menganjurkan umatnya untuk berpikir positif. Al Quran mengingatkan umat bahwa Aku (Allah) bagaimana prasangka hamba-Ku. Dengan demikian, bila kita berprasangka baik dan berpikir positif terhadap Tuhan, maka tidak diragukan lagi hasilnya juga baik dan positif.

Berpikir bisa dengan semua bantuan Allah mampu mengalahkan pikiran-pikiran negatif. Keyakinan itulah yang menyebabkan pejual gado-gado, pejual mie caluk, nyak-nyak di pasar dan lain-lain bisa berhaji pada usia 50 tahun setelah bertahun-tahun menabung emas. Padahal jika dihitung-hitung, mereka sulit mendapatkan Rp 30 juta untuk ongkos naik haji. Namun kita harus selalu ingat, bahwa Allah tidak pernah tidur menyaksikan umat-Nya yang gigih berjihad, tidak seperti gajah yang tidak pernah berpikir dan mengolah pikirannya menjadi energi positif.Murizal Hamzah

Baca Juga yang di bawah ini:

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 coment:

Post a Comment

Saran Masukan silahkan Anda kirim. Redaksi amat senang menerimanya.

POPULAR POSTS

VISITORE

VIDEO

 

Gema Baiturrahman Online Copyright © 2013 Alamat:Komplek Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. contak. Telp:+62852 8244 0074. Email: gema_btr@yahoo.co.id