Akhlak Mulia dalam Cahaya Al-Qur'an dan Sunnah

 

Oleh: Dr. H.A. Mufakhir Muhammad, MA

Kita mengawali kajian ini dengan memuji Allah Yang Maha Esa dan Mahaperkasa, pemilik seluruh alam semesta, yang senantiasa memberi perlindungan kepada hamba-hamba-Nya dan seluruh makhluk di langit maupun di bumi. Kita bersyukur kepada-Nya atas limpahan rahmat dan nikmat, seraya berdoa agar menjadi hamba yang selalu ingat dan taat.

Salawat dan salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, utusan pilihan Allah yang membawa risalah untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam, dari kebodohan kepada ilmu pengetahuan, dari kesesatan menuju petunjuk dan hidayah Allah SWT.

Pengajian kita melanjutkan pembahasan mengenai akhlak mulia, bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis Rasulullah SAW, serta penjelasan para ulama.

Salah seorang ulama besar India, Alamah Syekh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi — penulis karya monumental Hayatus Sahabah — menyebutkan empat ciri utama orang yang berakhlak mulia.

Pertama, berhati lembut dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia menerima hidayah Al-Qur’an, mengikuti sunnah Nabi, dan tidak terjebak pada kesombongan atau kedurhakaan. Orang yang menolak petunjuk Allah dan Rasul sesungguhnya sedang menjerumuskan dirinya pada kehinaan.

Kedua, sering menangis mengingat Allah. Orang yang beriman akan takut terhadap kelalaian dan dosa-dosanya, sehingga ia menangis memohon ampun. Para sahabat Rasul — manusia mulia yang sangat dekat dengan Allah — menangis bukan karena kelemahan, tetapi karena kesadaran tinggi terhadap tanggung jawab keimanan.

Menariknya, semakin banyak harta dan kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka, semakin tunduk dan tawaduk mereka di hadapan Allah, bukan sebaliknya.

Ketiga, tidak keras hati. Hati yang keras tidak mampu menerima kebaikan, dan dosa yang dilakukan tidak membuatnya tersentuh. Ayat dan tausiah tidak lagi berbekas karena telinga dan hati telah tertutup. Dalam bahasa Aceh disampaikan bahwa dosa yang menumpuk akan menghitamkan hati hingga pelakunya lupa diri sampai ajal menjemput. Karena itu Allah memerintahkan agar kita beribadah sampai datangnya kematian.

Keempat, malu berbuat maksiat. Rasa malu adalah benteng iman. Hilangnya rasa malu berarti hilangnya penjagaan diri. Orang yang tidak lagi malu mengerjakan maksiat menunjukkan bahwa akhlaknya telah jauh dari tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.

Keempat sifat ini bertolak belakang dengan karakter buruk yang membuat manusia hina: congkak, sombong, menolak ayat Allah, menolak petunjuk Rasul, dan hidup dalam kebodohan. Jika kesombongan dan kebodohan berkumpul dalam diri seseorang, apa pun nasihat yang diberikan kepadanya tidak akan lagi ia dengarkan.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa seluruh makhluk di bumi, termasuk yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri, semuanya dijamin oleh Allah. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak tunduk dan berserah diri kepada Rabb Yang Maha Menjamin.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang berakhlak terpuji, beradab kepada Allah dan Rasul, lembut hati, selalu bertaubat, dan malu berbuat dosa. Semoga kita termasuk golongan yang menerima hidayah dan menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

(Dirangkum oleh Sayed M. Husen dari cermah maghrib di Masjid Raya Baiturrahman, Selasa, 6 Juni 2026)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama