Jadikan Shalat Sarana Menghadirkan Kedamaian Pribadi, Masyarakat dan Bangsa

Aceh Besar -- Pesan penting Isra’ Mikraj bagi umat Islam adalah menjadikan shalat sebagai sarana untuk menghadirkan kedamaian bagi diri pribadi, masyarakat, bangsa, serta tanah air. Memaknai alam ini sebagai tempat mewujudkan peradaban umat manusia melalui shalat sebagai amalan utama dan menebarkan pesan kedamaian kepada seluruh makhluk lainnya agar terbentuk masyarakat yang baldatun thaiyyibatun warabbun ghafur.

Dosen Pascasarjana IIQ Jakarta, Ustaz Dr Nurkhalis Muchtar Lc MA menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid As-Sajidin Komplek Tanjung Kecamatan Ingin Jaya, 16 Januari 2026 bertepatan dengan 27 Rajab 1447.

Ustaz Nurkhalis Muchtar menguraikan, peristiwa Isra’ Mikraj merupakan mukjizat yang dialami oleh Rasulullah saw. Dalam waktu yang sangat singkat, Rasulullah saw diperjalankan dengan ruh dan jasad dari Masjidil Haram di Kota Makkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina hingga menembus langit sampai ke Sidratul Muntaha menggunakan Buraq yang didampingi oleh dua orang malaikat yaitu Jibril dan Mikail. 

“Dalam perjalanan tersebut banyak keajaiban dan fenomena yang luar biasa yang dialami oleh Rasulullah saw dengan berbagai tanda keagungan Allah Swt yang dinampakkan kepada beliau sebagaimana diabadikan dalam firman Allah Swt Al Isra’ ayat pertama,” ungkap penulis buku 55 Ulama Kharismatik Aceh ini.

Menurut Syekh Muhammad Said Ramadhan al Buthi peristiwa Isra’ dan Mikraj terjadi pada fase terakhir dari dakwah Rasulullah Saw sebelum hijrah ke Madinah. Juga Syekh Mustafa al Siba’i dalam karyanya Sirah Nabawiyah Durus Wa‘ibar menyebutkan beragamannya pandangan para ulama menyangkut kapan secara pasti terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj. 

“Yang terpenting bagi kita adalah subtansi utama dari kandungan Isra’ dan Mikraj yaitu kewajiban shalat lima waktu. Karena yang pertama dipertanyakan kelak di hari kiamat adalah mengenai shalat,” tegas Ustaz Nurkhalis Muchtar. 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya yang pertama diperhitungkan amalan seorang hamba pada hari kiamat kelak adalah shalat, apabila shalatnya bagus maka ia beruntung dan sukses, namun jika shalatnya rusak maka sungguh rugi dan celaka…(HR Tirmidzi). 

“Bahkan, saking istimewanya shalat, di dalam Al Quran disebutkan lebih dari seratus tempat mengenai perintah shalat, pujian orang yang melaksanakan shalat, dan ancaman bagi mereka yang meninggalkan shalat. Juga Rasulullah saw menjelang ajal beliau juga berpesan agar menjaga shalat sebaik mungkin,” urainya.

Ketua STAI Al Washliyah Banda Aceh 2018-2022 ini menambahkan, shalat dalam Islam merupakan fardhu ‘ain atas tiap muslim, baligh, berakal, dan kewajibannya berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’. Awalnya jumlah bilangan shalat adalah 50 waktu, kemudian Rasulullah meminta keringanan sehingga jumlah shalat menjadi lima waktu dengan nilai pahala sama dengan 50 waktu. 

Rasulullah saw bersabda dalam hadits qudsi, “Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak berubah dari keputusan-Ku apapun, dan sesungguhnya untukmu lima waktu sehari semalam, sama nilai pahalanya dengan lima puluh waktu”. (HR Bukhari Muslim).

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama