Banda Aceh -- Suasana khidmat menyelimuti Masjid Raya Baiturrahman saat rangkaian halqah magrib berlangsung, Senin (12/1/2026). Kajian yang disiarkan secara luas melalui Radio Republik Indonesia, Radio Baiturrahman, Serambi FM, serta YouTube Masjid Raya ini Dr Tgk HA Mufakhir Muhammad MA mengajak umat Islam merenungi hakikat keberadaan manusia di atas bumi melalui lensa Surah Al-Ankabut.
Dalam kajian tersebut, Tgk Mufakhir menekankan pentingnya kesadaran bahwa kehidupan dunia seringkali menjebak manusia dalam permainan dan sendau gurau. Fenomena ini bukanlah hal baru; sejak zaman Rasulullah saw di Makkah, kaum kafir telah menganggap hidup hanya sebagai ajang bersenang-senang tanpa nilai ibadah.
Sangat disayangkan, gejala serupa kini mulai terlihat di tengah masyarakat, termasuk di wilayah yang dijuluki Serambi Makkah. Banyak generasi muda yang menghabiskan waktu hingga larut malam bahkan menjelang subuh untuk kegiatan yang bersifat foya-foya dan hura-hura. Perilaku ini merupakan bentuk kelalaian yang mengkhawatirkan, karena mengabaikan tujuan utama penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah bahwa jin dan manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.
Tgk Mufakhir menggarisbawahi penggalan ayat "Wa innad daral akhirata la hiyal hayawan" yang menegaskan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan yang sangat singkat. Pilihan hidup di dunia akan menentukan nasib seseorang di yaumil mahsyar: kebahagiaan abadi di surga atau penderitaan tanpa henti di neraka.
Seseorang yang cerdas adalah mereka yang mampu memahami hakikat ini (lau kanu ya’lamun). Mereka tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam akhlak yang buruk (mazmumah), melainkan terus berupaya menghias diri dengan akhlak terpuji (mahmuda) yang dicintai oleh Allah, malaikat, dan orang-orang beriman.
Kekhawatiran besar ditujukan pada upaya sistematis yang merusak iman anak muda melalui gaya hidup konsumtif dan hiburan yang tidak mengenal waktu. Kehadiran tempat-tempat hiburan yang beroperasi hingga dini hari dianggap sebagai ujian bagi keimanan.
Umat hendaknya tidak bersikap sombong dan angkuh (istikbaran) terhadap teguran agama. Kebodohan yang bercampur dengan keangkuhan hanya akan menjauhkan manusia dari petunjuk Al-Qur'an dan Hadis. Sebaliknya, pintu kebahagiaan selalu terbuka bagi hamba-hamba yang mau tunduk, patuh, dan mengamalkan ajaran agama dalam setiap sendi kehidupan.
Sebagai penutup, Tgk Mufakhir mengingatkan kita semua senantiasa mentadaburi Al-Qur'an. Jangan sampai hati tertutup oleh gembok-gembok kelalaian sehingga tidak mampu lagi menyerap kebenaran. Mari jadikan setiap detik di dunia sebagai bekal untuk meraih kesejahteraan di akhirat yang abadi. (Smh)
