Menggali Hikmah Perjalanan Isra Mikraj

 

Oleh: Dr. Tgk. H. A. Gani Isa, SH, MA

Allah memerintahkan setiap jiwa mempersiapkan diri untuk hari esok. Hari esok yang dimaksud para ulama adalah hari ketika manusia berhadapan dengan akibat amalnya, yakni hari kiamat. Karena itu kita harus meningkatkan kualitas ibadah, terutama salat.

Salat lima waktu kewajiban pokok. Sudahkah kita melaksanakannya dengan disiplin dan khusyuk? Atau masih menganggapnya rutinitas biasa? Padahal salat tiang agama dan penentu keselamatan akhirat. Momentum-momentum tertentu mengingatkan kita mengkaji kembali kualitas salat kita.

Pada kajian ini kita bahas sekilas perjalanan agung Isra dan Mikraj. Peristiwa yang diluar nalar jika hanya diukur oleh sains dan teknologi. Karena itu, pendekatan yang tepat adalah nas-nas Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw.

Peristiwa ini bersifat pasti (qat’i) berdasarkan firman Allah pada Surah Al-Isra ayat 1:

Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haram ilal masjidil aqsa…

Ayat ini menunjukkan, peristiwa Isra benar-benar terjadi pada diri Rasulullah saw, bukan sekadar simbol atau dogma. Allah menggunakan lafaz Subhana, ungkapan yang menunjukkan keajaiban dan kesucian Allah atas peristiwa luar biasa ini. Rasulullah tidak melakukan perjalanan ini sendiri, tetapi diperjalankan oleh Allah.

Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha mengandung hikmah yang sangat dalam. Pendekatan sains tidak mungkin menjangkaunya sepenuhnya. Orang-orang Quraisy menolak mengimani perjalanan satu malam tersebut, padahal perjalanannya lintas dimensi dan hanya mungkin terjadi atas kehendak Allah.

Hubungan antara Makkah dan Yerusalem sarat makna historis karena kedua wilayah merupakan pusat risalah tauhid dan lintasan para nabi. Dari Nabi Ibrahim bermula dua garis keturunan: Ismail yang berujung pada Rasulullah Muhammad saw dan Ishak yang berujung pada Nabi Isa. Kedua jalur ini berkelindan pada satu misi: membangun peradaban tauhid.

Baitullah di Makkah adalah poros bumi, tidak pernah sepi dari ibadah, sebagaimana Arsy di langit tidak pernah sepi dari malaikat yang bertasbih. Karena itu Allah memberikan fasilitas ibadah bagi manusia melalui Ka‘bah dan syariat haji dan umrah.

Rasulullah saw dalam Isra Mikraj diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, fenomena umat-umat terdahulu dan gambaran akhirat. Allah membuka sedikit dari ilmu-Nya bagi manusia. 

Para peneliti menyatakan manusia hanya mampu mengungkap sekitar tiga persen rahasia alam semesta, sedangkan 97 persen tetap dalam pengetahuan Allah.

Allah menegaskan: “Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”

Perjalanan Isra dan Mikraj terjadi hanya pada satu malam. Dari Makkah ke Yerusalem jaraknya lebih dari 1500 kilometer, yang bila ditempuh unta memakan waktu dua bulan pulang pergi. Apalagi sampai Sidratul Muntaha, jaraknya tidak terukur oleh logika manusia. Semua itu terjadi dengan kekuasaan Allah, menggunakan kendaraan buraq yang kecepatannya melebihi bayangan manusia.

Peristiwa ini mengajarkan kita keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada kebesaran Allah, sekaligus penguatan ibadah terutama salat, yang diwajibkan langsung pada malam Mikraj. 

(Dirangkum oleh Sayed M. Husen dari Ceramah Maghrib di Masjid Raya Baiturrahman, 11 Januari 2026)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama