Mihrab:
Oleh: Sayed Muhammad Husen
Sahabat Abu Thalhah Al-Anshari masuk Islam dengan melamar Ummu Sulaim (ibu dari Anas bin Malik) saat dirinya masih musyrik. Namun Ummu Sulaim menolak lamaran tersebut. Ia menyadarkan Abu Thalhah, bahwa menyembah batu atau kayu yang dipahat manusia tidak bermanfaat.
Ummu Sulaim mengatakan, ia bersedia menikah dengan Abu Thalhah hanya jika ia masuk Islam dan keislamannya itu pula yang akan menjadi mas kawinnya. Tersentuh oleh keteguhan dan dakwah Ummu Sulaim, Abu Thalhah mengucapkan syahadat dan masuk Islam.
Dalam buku 101 Sahabat Nabi, Hepi Andi Bastoni menulis, Abu Thalhah memiliki semangat untuk selalu menyertai Rasulullah SAW dalam setiap perjalanan dakwah dan peperangan.
Misalnya, Abu Thalhah menunjukkan ketulusan niatnya ketika hendak berangkat menyertai Nabi dalam suatu perjalanan dakwah. Di sisi lain, istrinya, Ummu Sulaim, akan melahirkan.
Meskipun merasa berat meninggalkan istrinya, Abu Thalhah berdoa kepada Allah agar diberikan jalan keluar karena keinginan kuatnya tetap ikut dalam rombongan Rasulullah. Hikmahnya muncul ketika Ummu Sulaim justru menguatkan suaminya dan mendorongnya tetap berangkat.
Abu Thalhah dalam hidupnya juga seorang pemanah ulung dan selalu berdiri paling depan dalam melindungi Rasulullah dalam berbagai pertempuran. Dalam perjalanan jihad di Perang Uhud, misalnya, ketika posisi kaum muslimin terdesak, Abu Thalhah menjadikan dirinya perisai bagi Rasulullah.
Abu Thalhah seorang dermawan dalam mendukung dakwah Islam. Ia pernah menyedekahkan kebun terbaiknya, Bairuha, segera setelah turun ayat tentang kebajikan yang sempurna. “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. (QS Ali Imran: 92)
Dari kisah sahabat ini, kita memahami, dakwah dan perjuangan sering kali berbenturan dengan kepentingan pribadi dan keluarga, namun Abu Thalhah mengajarkan: panggilan Allah dan Rasul pasti mendatangkan kemudahan, peluang, dan keberkahan.
Demikian pula, kisah Abu Thalhah mendorong setiap pribadi muslim memanfaatkan berbagai potensi, keahlian, dan harta untuk berjihad meninggikan Islam dan umat Islam di seluruh penjuru bumi ini.*
