Kasus penyiksaan balita di daycare, dari Yogyakarta hingga Aceh pada April lalu, kembali mengguncang kepercayaan publik. Daycare yang semestinya menjadi ruang aman justru berubah menjadi malapetaka yang menakutkan bagi anak-anak. Reaksi masyarakat pun seragam dan masih wajar: marah, sedih, dan kecewa. Namun, kiranya kemarahan saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan kesadaran kolektif untuk membenahi akar persoalan.
Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Kekerasan di daycare ibarat gunung es—yang terlihat hanya sebagian kecil dari kenyataan yang tersembunyi. Fakta bahwa banyak lembaga penitipan anak beroperasi di Indonesia, wabil khusus di Banda Aceh -- tanpa izin resmi operasional menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah di sini. Di titik ini, negara tidak boleh abai. Regulasi tanpa pengawasan hanya akan menjadi formalitas tanpa perlindungan nyata.
Daycare seharusnya tidak sekadar menjadi tempat menitipkan anak semata. Ia mesti menjadi ruang pengasuhan yang layak, yang mendukung perkembangan emosi dan sosial anak. Pengasuh pun tidak cukup hanya menyukai anak-anak, pintar mengganti popok dan membuat susu, tetapi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai dalam merawat serta memahami kebutuhan mereka.
Di sisi lain, orang tua tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab. Dalam perspektif Islam, pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan anak adalah amanah utama orang tua yang tidak bisa dialihkan sepenuhnya. Menitipkan anak ke daycare bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab. Justru, orang tua wajib memastikan bahwa tempat yang dipilih benar-benar aman dan layak. Punya legalitas dengan ditunjang oleh sistem pengawasan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Peristiwa ini harus menjadi peringatan kita bersama. Tanpa kontrol orang tua, masyarakat dan pengawasan pemerintah yang tegas, daycare berpotensi kehilangan fungsi sejatinya. Alih-alih menjadi solusi, ia justru dapat menjadi sumber masalah baru yang membekas sampai dewasa kelak. Sekali lagi, tolong pastikan. Anak-anak kita bukan sekadar dititipkan, tetapi harus dijaga, dididik, dibimbing dan dilindungi dengan penuh tanggung jawab. JUNIAZI YAHYA
